Untuk hari-hari yang sekarang aku rasakan lebih mudah dijalani, aku akan berusaha dengan penuh kesungguhan untuk mensyukuri itu. Segala hal tampak lebih ringan, langkahku lebih jelas, tujuanku lebih pasti, dan, dengan tahap demi tahap yang harus dilakukan sebagaimana layaknya manusia dewasa menghabiskan satu hari lewat satu hari, semuanya - dengan kekuatan penuh dari Allah - aku rasa bisa menjalaninya.

Kukatakan lebih ringan, karena sejatuh-jatuhnya aku hari ini, aku berada di pusaran yang sepenuhnya ada untukku. Aku tahu tempat berpijak dan aku tahu kemana langkahku harus dipulangkan. Sesuatu yang aku cari-cari dengan susah payah di 10 tahun lalu. Aku tidak ingin menggali luka hari ini. Tapi kadang aku ingin dunia tahu keterus-terangku tentang betapa beratnya aku menjalani hari-hari di 10 tahun lalu. Hari-hari yang kalau tidak karena pertolongan Allah menuntun jalan, entah apa yang terjadi pada hari-hari itu.

Wkwkwkwkkwkw... Sepertinya ini hanyalah caraku siang ini untuk mengurai agar air mataku keluar, aku ingin sesak dadaku tumpah - dengan atau tanpa alasan jelas.

Akhir 2014 aku kumpulkan segenap keberanian agar bisa kuselesaikan masa kuliahku yang nekad. Aku berusaha menemui dosen. Dosen pembimbing dan dosen penguji. Mencoba merayu dengan draft tugas akhirku yang kutulis dengan asal jadi. Aku ingin menuliskan bagaimana situasiku hari itu. Pikiran yang kacau, dan hati yang amburadul. Satu-satunya alasanku untuk tetap maju hanyalah, aku harus membuktikan bahwa apa yang aku tuliskan itu masuk akal dan cukup pantas untuk bisa segera maju sidang. Hari - hari yang berat di saat aku rasakan seluruh dunia memusuhiku. Nasib baik serasa jauh. Dan bertemu dengan orang yang selama aku berkuliah adalah teman-teman dan sahabat, tapi hari-hari itu aku nampak menjadi terdakwa di mata orang-orang. Sebuah perasaan yang tentu saja berlebihan tapi itu lah yang aku rasakan saat itu. Pada akhirnya  awal tahun 2015 berhasil kulewati. Hati yang patah, dan tujuan yang menguatkanku hanyalah keluarga. Tempat yang akhirnya kusadari sebagai tempat pulang. Tempat yang sempat aku lupakan.

Aku berusaha temui guru ngaji. Untuk menumpahkan uneg-uneg tentang hatiku hari-hari itu yang terasa berat. Aku butuh penyelesaian. Dan aku butuh ketetapan hatiku kemana jalanku aku arahkan. Ini juga keputusan gila. Aku kumpulkan keberanian, aku pastikan segala prasangkaku kepada orang yang bersangkutan, dan dengan segenap hati aku telah siapkan apapun kata yang akan aku dengar. Ini kenekadan yang lain, dan aku tahu jalanku setelah itu tak akan lagi sama dengan sebelumnya. 
Aku pernah mendengar suatu perkataan, bahwa keberanian itu adalah kumpulan dari kenekadan yang diperhitungkan, dan lebih-lebih atas pertolongan Allah. Hari ini di awal 2025, aku ingin katakan pada diriku yang naif di tahun 2015, bahwa yang kamu lakukan adalah sangat berani. Nekad. Tapi langkahmu benar dan bertanggungjawab.

Setelah jalan baru yang kupilih akhirnya mulai tertata, aku memilih karir dan memang itu satu-satunya hal yang paling mungkin untuk dilakukan, saat itu lah jalan-jalan kemudahan mulai terlihat. Meskipun berat awalnya, tapi aku berusaha mencari prasangka baik pada takdir Allah.

Fatim, terimakasih telah bersabar dengan kesabaran yang baik pada hari-hari itu. 
Terimakasih untuk -tidak apa-apa menjadi orang jahat bagi sebagian orang- demi menjalani pilihan jalan yang orang lain tidak mengerti,
Terimakasih untuk tidak berhenti berprasangka baik.. dan terimakasih untuk tetap berjalan walau pelan. 
Kadang, hal-hal yang berat begini memang harus disampaikan, bukan agar orang lain mengerti atau keadaan menjadi lebih baik, tapi untuk menyadarkan bahwa kau pernah menjadi bukan apa-apa. Kau pernah menjadi orang yang tidak tahu kemana harus berpegangan, lalu Allah dengan segenap keajaibannya yang menunjukkan jalan.
Terimakasih untuk menjadi dirimu hari ini.. dan terus melangkahlah dalam prasangka baik takdir terbaik dari Allah.

Comments

Popular posts from this blog

Bunga Bunga Kamboja : Semua akan Berakhir pada Akhirnya