Posts

#HaiHatta : 1

Saya mau cerita, cerita tentang proses persalinan Hatta, anak laki laki pertama saya (dan Bapaknya Hatta) yang lahir sekitaran dua bulan lalu di Bulan Mulia Ramadan (tulisannya Ramadan gaes sesuai KBBI Xixixi).  Perkenalan dulu, kami menamai anak pertama dengan nama "Ramadan Hatta Abisatya". Pertama tama nama yang sudah fix adalah Hatta. Begitu periksa USG dan diketahui anak kami InsyaAllah laki laki, usulan nama Hatta langsung ketok palu, sepakat, Bapak dan Ibuk Hatta setuju. Saya kurang tau, Bapaknya nemu dan setuju nama Hatta darimana, yang jelas bukunya di rumah tentang Bung Hatta ada sekitar 3 buku : Biografi Politik Mohammad Hatta (Delian Noor, LP3ES : 1991), Hatta Jejak yang Melampaui Zaman (Kepustakaan Populer Gramedia : 2010) dan Kedaulatan Rakyat, Otonomi dan Demokrasi (Mohammad Hatta, Kreasi Wacana : 2014). Buku yang kemudian saya baca diawal balik ke Jogja tahun 2019, yang kemudian menginspirasi untuk memberi nama anak laki laki kelak dengan nama Hatta. Terlebih k...
Kalo dipersilakan melakukan hal yang paling diinginkan, maka aku ingin memeluk diriku sendiri lamaaa sekali. Selama mungkin, seerat-eratnya. Ingin kukatakan pada Fatim yang hari ini, bahwa kamu sudah melakukan hal yang luar biasa. Kamu sudah bekerja keras. Kamu sudah bersungguh - sungguh. Ingin kupeluk seorang Fatim dan kukatakan padanya.. amanah kehadiran Hatta membuatmu semakin berhak untuk mencintai diri secara lebih..untuk semua usaha melahirkannya.. membersamai hari-hari awalnya.. mengenali dirimu sendiri yang membawa sifat-sifat yang telah ada tapi baru kini kamu sadari keberadaannya.. Terimakasih ya Allah mempercayakan Hatta di tengah tengah kami.. Perkenankan kami jadi orangtua yang amanah.. Senyum dan tangisnya mengajarkan arti mencintai dengan tulus, tanpa syarat. Hatta yang menerima ibunya tanpa tapi.. Ibu mencintaimu Nak.. ibu mencintaimu.. 

Percaya

Minggu - minggu ini aku berulang kali merapal kata "percaya". Percaya pada yang Diatas, percaya pada suami, percaya pada diriku sendiri, dan percaya pada lingkungan di sekelilingku. Juga, mempercayai makhluk kecil yang semakin membesar di perutku. Percaya itu tidak gampang, apalagi pada hal yang tidak pasti. Tapi waktu yang cukup lama telah mengajarkan bagaimana langkah yang kita ambil selalu ada sisi abu-abu. Dan dalam langkah yang kita ambil ada opportunity cost atas kesempatan lain yang berseberangan.  Bulan kemarin, ada peristiwa istimewa yang aku "rayakan". Aku "rayakan" dengan refleksi dan menengok pencapaianku. Pernikahan yang menginjak setahun, dan umur yang bertambah-keduanya di hari yang hanya berselang sehari. Aku juga tidak menyangka akan menjadi manusia yang sangat romantik seperti ini.. menggabungkan hari-hari istimewa, dan semesta mengamini. Terhadap bertambahnya umur, aku menengok ke belakang, dan ujian percaya sudah berkali-kali aku alami ...

#untitled

Kemarin sore saya pulang kantor tenggo. Jam 4 udah beres packing semua bawaan terus menuruni tangga menuju lobby . Paginya kebetulan gerimis malu-malu, jadilah saya berangkat bareng Pak Catur. Seringnya kalo berangkat bersama, maka saya akan menunggu (dengan mengisi waktu di depan laptop, mampir Progo belanja sayur atau keperluan rumah, atau menyusul ke kantor beliau menunggu depan kantor atau menunggu di stasiun lempuyangan tempat miki di parkir). Tapi kemarin sore rasa-rasanya kontrakan memanggil-manggil, minta saya segera pulang. Beberapa minggu ini memang ritme aktivitas sengaja saya buat selo, nggk sepaneng dan yang penting hati seneng. Kalo tidak dibuat begitu menjalani trimester pertama sepertinya akan lebih mencekam. Setiap pagi saya membatin mantra agar sedikit-sedikit sarapan yang tetap rutin saya lakukan masih ada yang tersisa diantara yang saya muntahkan kembali, jam 10 pagi di saat perut mulai melilit minta diisi lagi saya tidak  menolak apapun bekal yang saya siapkan...

#untitled

Tanggal 10 September wakil menteri Agraria Tata Ruang ada kunjungan kerja ke Jawa Tengah dan DIY. Jadi semacam ngunduh gawe bagi orang-orang kantor. Bapaknya yang juga adalah koordinator Gugus Tugas Reforma Agraria Pusat mau meninjau pelaksanaan GTRA DIY. Perjalanan di rencanakan konvoi pake mobil dengan protokol covid ketat. Sebagai pelaksana tugas yaudah sih mau protes orang pusat bisa diem dulu nggk sih di pusat nggk usah kemana - mana grafik COVID-19 juga masih besar tapi terlindas opini, kebijakan dan gelombang apa kata pimpinan. Yaudah sih ya. (Alhamdulillah sampai akhirnya ngeblog ini nggk ada info ada orang covid di kantor) Saat riweh ngurus kunjungan wamen dan sekaligus nyiapin rapat koordinasi yang lumayan besar itu sebenarnya udah mulai ngerasa ada yang beda sama badan dan mood. Mood swing semakin nggk jelas dan badan lebih cepet capek. Ya tapi mikir karna persiapan ini memang riweh dan substansi materi berubah - ubah terus nggk mikir lain-lain selain yaudah ini efek kerjaan...

#untitled

 Halo hatiku.. Bagaimana rasanya disapa lagi? Tuanmu akhir-akhir ini sibuk dengan sikap duniawi. Kerja. Kerja.Kerja. Lembar googledoc - lembar googledoc - lembar googledoc.. Pulang ke rumah masak-ngobrol standar.. lalu tidur dan besok kembali ke rutinitas lagi Begitu berulang-ulang.. Maafkan tuanmu tidak banyak waktu yang diluangkan untukmu.. Wahai hati.. Jika kau ingin bersedih, maka bersedihlah.. Karena memang naluri emosi berfluktuasi.. Yuk menepi.. sebentar.. besok kembali  bergiat lagi..

#untitled

Aku tidak ingin berbohong bahwa aku baik-baik saja. Aku ingin katakan bahwa kehidupan baru memberi dampak cukup nyata bagiku. Aku ingin sampaikan bahwa beradaptasi (lagi) di dunia baru terasa melelahkan bagi batinku. Lingkungan kerja... Keluarga yang secara kebiasaan dan pola komunikasi berbeda.. Dan kebutuhan - kebutuhan untuk berdialog dengan diri sendiri.. Saat kenyataan - kenyataan yang kita hadapi kadang tidak mengizinkan kita mengamini harapan Dan saat kita mengulur waktu dan bertanya-tanya.. Aku harus bagaimana? Aku sedang tidak baik-baik saja.. Tapi aku ingin katakan "Tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja.." "Its Okay not to be okay.." "Gwenchana...." :)