EDISI LAMA G POSTING = EDISI MELANKONIS



Apakah cinta selalu menghadirkan air mata? Kata Faiz pada sang bunda. Tersenyum dikulum saya mendengar dan mengiang kata itu. Butuh beberapa saat lamanya saya terdiam. Butuh beberapa waktu lamanya saya menangkap apa yang sebenarnya ingin si Faiz raba dari rasa sang Bunda seiring kepolosan pola pikir bocah mungil kala itu.
Sayang sekali saya bukan bundanya. Sayang pula saya tak ada diantara dua anak ibu ini saat ada kata terlontar dari si mungil kepada sang bunda. Jikalau saya ada, saya akan katakana, bukan hanya selalu nak, bukan hanya selalu air mata dihadirkan ketika sudah bicara cinta, sekali lagi, tidak hanya selalu, tapi memang keniscayaan.
Saya barusan membaca serial cintanya Ustad Anis Matta. Buku lawas yang saya pinjam dari perpus JMG, SKI Fakultas. Saya terhenti pada bab 17. Indahnya memberi.
“…….para pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka : memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu.  Menerima? Mungkin,  atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu efek. Hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Seperti kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama. Sebab, adalah hakikat di alam kebajikan bahwa setiap satu kebajikan yang kita lakukan selalu mengajak saudara saudara kebajikan yang lain untuk dilakukan juga..”
Mungkin memang malam ini adalah edisi melankonis. Tapi saya pikir sekali kali perlulah. Sejenak. Tiba tiba saya menekuri lama kata kata itu. Tidak tahu atas alasan dan dasar apa.

Tadi pagi, entah saya merasakan hentakan luar biasa. Tentang memiliki. Tentang sepenanggungan. Dan saya simpulkan dalam muara bernama cinta. Sejalan dengan kesimpulan yang saya ambil pada jeda malam ini.
Sesekali ungkapan cinta perlu saya terjemahkan dalam laku saya. Benarkah hidup yang sudah saya jalani ini? Saya rasa seumur umur hidup saya belum pernah menjadi pencinta seperti apa yang dikata penggalan tulisan di atas. Memberi? Saya sendiri tak yakin kapan saya member tak berharap pamrih. Berharap menerima, itu adanya selalu.

Respek. Senyum simpul. Sepertinya itu akan selalu menjadi PR. Karena, saya pikir itu pembelajaran cinta yang paling sederhana. Lantas, ketika belajar yang sederhana saja aku tak pernah kuasa, bagaimana aku belajar menjadi pencinta yang luar biasa??

Sayang. Malam ini adalah menjadi malam perenungan panjang. Betapa lama aku kehilangan sudut dan arah untuk mendefinisikan cinta secara tulus. Lama? Saya pikir iya. Karena yang ada hanya timbal balik yang terharap. Atas kepentinganku sesaat? Seringkali, bahkan.

Jika memang Cinta menghadirkan air mata, wahai Faiz, maka izinkan saya menangis mala mini karena kealpaan saya mendefinisikan cinta itu secara arif. Mendewasakan diri sendiri, menekuri beberapa jeda waktu yang sudah terlewat. Memohon kiranya Sang Dia menuntunku kea rah bagaimana cinta yang benar itu terejawantahkan dalam kata kerja, menjadi senyum, keriap, dan langkah padu. Jujur, aku butuh tahu akan itu, kapan? Saya hanya berharap tepat saatnya.

# Malam ini sepertinya akan berlalu dengan melankonis.

Comments

  1. terima kasih berkenan mampir, salam kenal balik,
    tu udah saya folbek
    he , "terus menulis" hm, akan saya ikhtiarkan :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bunga Bunga Kamboja : Semua akan Berakhir pada Akhirnya