#untitled

Lega.

Kembali lagi mengingat sebagaimana yang didapat pada waktu-waktu lalu, lega, iya lega. Lega adalah pengayaan batin atas kerja kita. Bukan apa yang didapat tapi apa yang telah dilakukan, yang berhasil diselesaikan.

Bahagialah bila, kau masih punya mimpi. Ya, meskipun sebagaimana tabiat mimpi, dia adalah maya, imajiner lagi fatamorgana. Tapi karunia Allah melebihi dugaan-dugaan hamba, seperti Bunda Hajar yang melihat fatamorgana cekungan air, tapi dikejar hanyalah pasir, tapi tanpa disadari ia hadir justru di dekat kaki sang Ismail.

Hidup hanya sekali, berikanlah yang terbaik. Memberi yang terbaik mungkin bukan yang terbanyak, terhebat, terjauh atau termelambung. Terbaik adalah seperti yang dikatakan dalam puisinya Taufik Ismail,

jika kau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
jadilah belukar, Tapi belukar yang baik, yang tumbuh di pinggiran danau.
Kalau kau tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput, tapi rumput yang memperkuat tanggul di pinggiran jalan.
Kalau kau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air.
Tidak lah semua menjadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya.
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu.
Jadilah dirimu,
sebaik-baik dirimu sendiri.
(Kerendahan Hati, Taufik Ismail)

Terbaik mungkin juga apa yang disampaikan Ustadz Cholid Mahmud malam Ahad lalu, “Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang menurut kesanggupannya, mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal didalamnya,” (QS. 7:42) yang kata beliau, ayat tersebut sudah memiliki arti dengan kalimat “Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, mereka kekal didalamnya.” Tapi kalimat imbuhan ditengah-tengah menegaskan bahwa dengan segenap kesanggupan dan kadar yang ada pada diri kita, kita –dengan izin Allah- berpeluang menjadi penghuni syurga yang kekal di dalamnya –Allahu A’lam.

Terbaik mungkin.. menepati janji yang kita buat pada diri sendiri. Bahwa mimpi baik, ada yang harus diperjuangkan dengan cara-cara yang baik. Bahwa cita-cita tentang kebaikan, adalah ujian untuk menempuh jalan kebaikan itu sendiri. Jalan yang panjang, lagi ujungnya tak kelihatan.

Jogja,
30062015

14:38

Comments

Popular posts from this blog

Bunga Bunga Kamboja : Semua akan Berakhir pada Akhirnya