Baru terasa betul kalau ukhuwwah memang bukan sesuatu yang dibuat buat, bukan artificial, lebih lebih bisa dipura purakan. Karena rasa cinta yang muncul atasnya, rasa percaya, rasa saling memiliki, saling menanggung, saling topang menopang, sampai tingkatan saling mendahulukan saudara atas pribadinya, memang benar benar bukan domain kita sebagai manusia yang satu sama lain sama lemahnya. Bicara domain, pertama dan pasti dalam rukun ketertiban satu gerak padu kerja bersama adalah dasar kepahaman atas apa yang dimaksud dengan Salimul Aqidah. Aqidah yang lurus. Kau tau apa itu maksud satu frase tersebut? Domain keyakinan adalah mutlak semata milikNya. Dalam konteks diri pribadi ia diupayakan dengan kerja keras menuntut ilmu, menajamkan intuisi dan mengasah mata hati dengan kejujuran dan kebeningan naluri. Bukankah Setiap kita dalam fitrah kelahirannya adalah makhluk yang salim? Dan beruntunglah atas nikmat karunia bernama keluarga muslim yang menuntun dalam kebeni...
Ketika kau datang, terlambat, dengan setengah bagian rokmu kuyup oleh hujan, kaos kaki dan sandal gunung yang tak sempat kau ganti, memasuki masjid, menata hati dan menyiapkan senyum lebar. Di dalam disambut 8 matahari bermata binar. Lari kejar-kejaran. Merubah tumpukan karpet menjadi rumah-rumahan. Lalu tiba-tiba satu orang diantaranya menangis, keras. Ditanya diam, hanya meronta meminta pulang. “nggak mau ngaji! Mau pulang! Takut hujan!” tak ada kalimat jawab, hanya seketika nalurimu membuat tangan bergerak mendekap. Menggendong dan mengantarnya pulang. Meminta yang lain tenang dimasjid merapal hafalan annas sampai al humazah, dan mereka patuh, duduk, dan melingkar. Ada rumitan rasa yang tak bisa kujelaskan. Hujan. Dan sore ini yang menaungkan lembayung biru. Terima kasih, Alloh. Tulisan entah kapan yang saya tulis. Tiba-tiba saya merindukan matahari-matahari sore hari itu :)
Jum’at minggu lalu. 26 April 2013, sekitar jam 7 sampai jam 8-an Warungsteak jakal Adalah hari dimana obrolan-obrolan berkisar agama, bid’ah, gerakan islam, kenapa begini, bolehkah begitu, menggulir tanpa skenario mengalir sekitaran setengah sampai se-jam-an. Bersama kawan-kawan diskusi yang tak seperti biasa saya diskusi dengan teman-teman yang seperti ini. Bukan pada sesama aktivis, bukan pada teman-teman sekelompok liqo’, tak juga pada forum lintas gerakan. Tapi, pada sebuah forum, bersama kolega se-blok II , dalam kerangka makan-makan seusai KKL. Berawal dari perbincangan asramamu dimana, dinamika kehidupan asrama, beranjak pada obrolan ringan seputar agama,, ya ya, meski ada satu dua teman yang barangkali tak sepenuh ridho pada aras perputaran topik, tapi sungguh berkali sungguh, renungan kemudian menjadi efek. Hanyakah aku? Tidak, mudah-mudahan. Ditemani kepulan asap rokok yang terus dan terus, pertanyaan, pernyataan, diskusi, ungkapan retoris, dan sejumput...
Comments
Post a Comment