Memilih, Mengharuskan, dan Memilih Keharusan
Sore ini, berbarengan dengan ungkapan yang keluar dari lisan
teman sekelas saya, saya ingat sebuah kuliah malam di asrama. Kala itu kuliah
tafsir hadits, bersama UAD (Ustadz Ahmad Dahlan, kandidat doktor hadits dari
sebuah perguruan tinggi di Malaysia), tengah membahas hadits ke-11.
Dari Abu Muhammad
Al-Hasan bin Ali ra. Cucu kesayangan Rosululloh SAW. berkata, aku telah hafal
sabda Rosululloh SAW,“Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu, dan kerjakan
pekerjaan yang tidak meragukanmu” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i, Tirmidzi berkata,
“Ini adalah hadits hasan shahih”)
Dalam penjelasan dan pembahasan yang beliau sampaikan,
beliau jelaskan panjang lebar, bahwa pada prinsipnya, lakukan semua yang
menjadi keyakinan kita, tinggalkan semua yang meragukan. Dalam sholat kita
ragu, sudah masuk raka’at keberapa, maka segera putuskan kata hati yakin berapa
raka’at, dalam shalat ragu-ragu barusan buang angin atau tidak, putuskan
keyakinannya, jika tidak terdengar
suara, jika tak tercium bau, maka lanjutkanlah sholatnya. Juga pada banyak
perkara, ambil yang yakin, dan segera putuskan, tinggalkan yang ragu dan jangan
terus dipikirkan. Begitu seterusnya.
***
Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan satu kiriman surat
cukup panjang, dari adik kelas saya, yang mengundurkan diri dari kegiatan yang
sudah biasa dilakukan dari tahun pertama beliau kuliah. Memang sih, beberapa
bulan sudah menunjukkan indikasi adik saya ini mulai terlihat tak biasa, tapi
dua minggu yang lalu baru surat pengundurannya saya baca. Fine.
Nampak jelas
bahwa memang hidup ini isinya pilihan-pilihan.
Sore ini juga, satu teman saya, setelah sekian waktu
membahas tugas kesana kemari, obrolan kita walhasil berujung “karena kuliah
blok ini pilihan! bukan keharusan!”
***
Benar. Hidup ini pilihan.
Memilih yang diyakini, dan seketika meninggalkan yang
diragukan. Yang menjadi penting adalah, bertanggungjawab penuh pada pilihan
yang sudah anda ambil. Selesai.
***
Pernah juga saya kirimkan satu pesan singkat, ketika satu
orang benar benar “menyebalkan” dan menghilang (*dan ternyata sedang bingung
dengan yang namanya pilihan juga)
jangankan
amanah,
agama saja tak bisa dipaksa,
putuskan
segera,
jika masih
sevisi, pos amanah (blablabla *saya sebutkan pos-nya)
butuh orang
dan blm terisi
Hidup ini
pilihan.
Syurga
neraka pilihan. Menjadi pahlawan atau pengecut pilihan. Menjadi penjahat atau
lakon penolong alias superhero juga pilihan.
Pilihan.
Bagi tiap orang mungkin berbeda.Justru kesamaan acapkali menjadikan kita tak
berwarna. Apalagi untuk kesamaan yang membuta, jangan sampai.
Dalam banyak
kondisi.Kita harus belajar menjadi dewasa. Menghargai banyak pilihan yang
disodorkan di depan mata. Kedewasaan
akan menggiring kita saling memahami pilihan yang berbeda dari tiap tiap orang.
Kedewasaan juga menggiring kita memilih dengan tanggung jawab. Memilih dengan
kesadaran tak sekadar latah ikut-ikutan teman. Ini, kedewasaan ini, akan memberikan energi bagi kita untuk mawas
diri, tak mudah sakit hati, menghormati sistem, sekaligus tak menjadikan sistem
sebagai tameng kebanggaan diri. Hai, apalagi menjatuhkan vonis yang tidak-tidak
pada saudara atau teman yang berbeda pilihannya, lagi-lagi jangan sampai.
Hidup ini
pilihan. Dan poin mendasarnya adalah bertanggungjawab pada pilihan yang sudah
diambil masing-masing kita. Kecuali, anda adalah seorang opportunis, yang
memanfaatkan segala situasi untuk sekadar memuaskan ambisi pribadi. Mumpung
begini aku akan begini, mumpung lagi gini gua bakal ngumpulin ini. Jangan
sampai.
***
Memilih
keharusan.
Satu waktu
muncul sebuah tanya.
Agar tak
bingung, satu keyakinan perlu terus kita tata. Dari segala pilihan, ambillah
satu yang yang itu adalah memilih keharusan. Memilih yang membuahkan harus.
Sebuah keharusan, jangan perosokkan diri pada mengharuskan yang sifatnya
sebenarnya adalah pilihan saja. Sayang! Energi anda akan banyak terbuang
percuma.
Memilih
keharusan, sungguh akan membuat anda mampu secar jernih membedakan mana suara
nurani, mana yang berisik gaduh sekitar kita. Memilih keharusan, membuat anda
jernih berkata karena apa dan bergerak menuju kemana.
Contoh
paling sederhana,
Kewajiban
mendasar adalah mencari ilmu, maka anda telah memilih sebuah keharusan ketika
dimanapun berada yang kita asah adalah intuisi pembelajar. Mau di pasar, mau di
jalan, mau di tengah pengamen, mau di tengah “cecunguk” (ini istilah yang
dilontarkan teman dalam obrolan barusan), atau bersama ikhwah fillah di jalan
dakwah, intuisi pembelajar akan selalu jalan, tak melulu harus kuliah di
kelas-kelas. Kenapa? Karena yang kita pilih sebuah keharusannya. Kalo anda
mengharuskan apa yang sebenarnya menjadi pilihan?? Ah sayang sungguh sayang,
toga tersemat dan ijazah di tangan, maka barangkali hidup akan begitu gambling
di kemudian.

Comments
Post a Comment