Belajar dari Kritikan et al
Tidak ada hal yang betul betul salah. Bahkan jam rusak pun benar dua
kali dalam sehari
(Paulo Coelho)
Persis hari Rabu pekan lalu, ujian kompre berhasil terlewat
sudah. Berbuah kritik, saran, masukan, dan tentu saja, tugas baru buat merevisi
banyak hal, dari sebatas redaksi penulisan, sampai metode yang harus dipikir
ulang.
Ada satu yang menarik yang ingin saya ceritakan. Semua
berawal dari et al,.
Saya menulis bahan buat ujian atau yang lazim disebut proposal, tanpa memperhatikan buku
panduan penulisan, sistematika dan cara penulisan dibuat sesuai intuisi dan ketajaman
mata hati (ini bukan kreatif atau anti mainstream, tapi semi bunuh diri lebih
tepatnya :l) maka bisa dibayangkan, penulisan penulisan hal sederhana yang bisa
jadi hal yang remeh, justru menjadi hal yang membosankan karena hampir tiap
lembar dikritisi. Termasuk satu diantaranya, adalah kata et al,.
“Coba saudara perhatikan lagi cara saudara menulisakan et
al,. atau dkk!”
“dan coba saudara tuliskan, tu spidol disitu!”
Saya tuliskan.
“coba saudara tuliskan juga yang saudara tuliskan et al yang
kemarin”
Saya tuliskan sesuai yang diminta.
Mana yang benar?
Saya jelaskan sepanjang saya memahaminya.
Yang di atas itu ya mbak, saya kasih tahu, itu tulisan cara
Eropa. Kalo yang bawah, itu tulisan cara Amerika.
Sabda bergema dari lisan
penguji.
Kalo anda di Malaysia nulis gaya yang di atas, jangan
salahkan penguji kalo bakal dicoret semua. Tapi, kalo anda ke Pilipina, nulis
cara dibawah, pastikan akan penuh coretan. Bingung kan?!! Memang membingungkan!
Makanya yang diperlukan adalah konsistensi. Kalo mau pake yang Eropa, pakelah
yang itu terus, kalo mau pake cara yang Amerika, tulis dengan gaya itu terus. Perhatikan
pula di negara tempat anda berada, disana dipakai metode apa.
Saya memperhatikan dengan seksama.
Yang memang saudara harus pahami adalah bla bla bla, begini
begini, harusnya begitu dst dst. Kian panjang lebar masukan masukan terlontar.
Baiklah. Ini tentang et al.
Saya belakangan merenungi dari apa yang bapak penguji
sampaikan.
Tentang metode. Dan tentang persepsi benar. Oleh Eropa,
satunya lagi oleh Amerika.
***
Dalam banyak hal, hidup yang tak sendiri membuat yang
namanya beda metode menjadi satu niscaya. Kalo Ustad Salim, beberapa kita
jumpai dalam buku buku best seller beliau, kata kata adigdaya yang berujar,
jangan paksa orang lain mengenakan sepatu ukuran kita (*DDU-2010). Atau dalam
tulisan saya yan terdahulu, jangan paksa orang lain mengerti dan memahami, akan
hal yang masih menurut kita versi benarnya (*Persaudaraan itu Bernama Ukhuwwah-2012)
Juga sama, memaksa orang untuk memahami cara pandang
mengelola dan mengukur sesuatu dengan parameter dan metode yang berbeda,
menjadi satu penyadaran bahwa itu adalah sesuatu yang tak jelas ujung
pangkalnya. Dalam salah satu firman Illahi disebutkan, hindarkanlah berbantah
bantahan, yang membuat hatimu gentar, dan hilangnya kekuatan.
Saya tak katakan bahwa berdebat adalah hal yang buruk,
tidak. Tetapi, sebagaimana kelanjutan nasehat penguji saya kemarin, adanya
perbedaan metode kemudian mengharuskan adanya konsistensi. Yang
diperlukan adalah konsistensi, sekali lagi. Dan konsistensi ini lahir, atas
kepahaman pada dimana kita berpijak, pada apa kita menuju, dan pada trek mana
kita akan berjalan. Sedang lawan konsistensi adalah, keragu-raguan, kebimbangan,
dan goyah gentar maju enggak, mundur pun malu.
Untuk melakukan itu, yang diperlukan adalah efforts saudara
saudara. Effort bin laku nyata, untuk menyisih sebentar waktu memahami dan
memperdalam, dan tentu, melepas belenggu keangkuhan, ego, dan syak prasangka.
Setelah itu semua terlaku, sabar adalah senjata yang terus kudu dibawa serta.
Maka kemudian, anda (dan saya) akan berproses dan berjibaku berkuat-kuat sabar,
siapa yang akan lebih sabar, atau tunggu siapa yang bakal terkalahkan.
Hei. Kenapa nulisnya jadi kemanamana la la la la–a
Baiklah.
Saya akan bercerita selanjutnya. Biarkan kata kata ricuh
keluar serta merta, setelah sekian hari harus bersistematis runut dan bahkan
akan berlanjut ke bulan bulan yang indefinied beberapa bulan lagi :”).
Selain konsistensi, pada hari kamis-nya pekan lalu,bukan,
bukan Kamis, tapi Senin pagi kemarin, umi Asri Widiarti menyapa kelas pagi di
asrama dengan materi keberanian. Hei,
tahukah kalian, bahwa sifat pemberani adalah sifat yang teramat mulia. Lawan katanya
adalah sifat yang dibenci agama ini, kepengecutan. Masih berkelindan erat
dengan tahapan menerima perbedaan metode dan konsistensi, keberanian adalah
step selanjutnya. Berani. Sifat ini, yang membuat Abu Dujanah dipuji rosul atas
gentarnya musuh atasnya, juga yang tersemat bagi Huzaifah bin Yaman sang
pembawa rahasia, yang bertolak pada gelapnya Khondaq menyusup kemah musuh
memikul tanggung jawab mulia menilik seberapa kuat kekuatan musuh yang akan
terhadapi muslim kala itu.
Berani. Konsisten. Dan kekokohan pijakan atas keberanian
menerima perbedaan. Maka suatu saat akan kau saksikan, betapa indah mengelola
beda, tidak ada istilah taklid buta. Tidak pula tergesa mendahului dan lebih
hebat dari kapal besar kehidupan berjamaah.
Bukankah ruku’nya makmum sebelum imam akan meng-fasad-kan
sholat???
Sungguh, rindu kadang pada nuansa hidup shahabat, maka
berani mengangankan dan memimpikan kisah itu hidup lagi, adalah cita yang tak
boleh mati.
2 April '013
19.29
Roudhoh 3 pada paradoksal ramai sepi, sunyi-hingarnya Rumah
Cahaya.

Comments
Post a Comment