S I R K U S P O H O N : Sebuah Review Cerita
Gambar : bentangpustaka.com |
(Tulisan ini adalah review cerita, bukan review buku. Karna saya masih takjub pada ceritanya. Bukan pada fisik buku, desain sampul, jenis kertas dan hal - hal semacam itu.)
***
Bulan kemarin saya beli buku terbarunya Andrea Hirata :
Sirkus Pohon. Habis saya baca dua malam. Sore – sore saya ke Gramedia samping
alun – alun, malamnya mulai saya baca. Dilanjut lagi besok malamnya, dan
tuntas. Pas kesempatan ke Surabaya beberapa minggu kemarin, kembali saya baca
sepanjang di kereta. Selesai. Dan bekasnya masih sama. Sebagaimana buku atau
film yang menyimpan kesan dalam, membuka lembar terakhir rasa-rasanya seperti
nggak rela, apalagi ending Sirkus Pohon yang ..... totally amazing. Bagi saya,
menakjubkan. Cara Andrea membeberkan siapa menjadi apa di akhir cerita, membuat
saya langsung terlempar pada belantara dunia nyata. Maka benar belaka quote
yang ditulis di lembar awal tulisan : “Fiksi adalah cara terbaik menceritakan fakta”. Terbaik. Sungguh
terbaik.
Salah satu yang khas dari Andrea Hirata adalah penceritaanya
tentang ayah. Tak terkecuali di Sirkus Pohon. Dalam salah satu babnya
diceritakan : muliakan diri kalian dengan bekerja – tetap dengan sosok ayah
sebagai pusat gravitasi. Dan lagi, penceritaan Andrea Hirata selalu down to
earth (dengan kultur Melayu Belitong-nya tetap). Mata pencaharian, cara jalan,
cara bicara, deskripsi mimik muka, semuanya terbayang jelas seperti apa adanya.
Dalam penceritaan Andrea Hirata, ayah adalah sosok erat di samping kita,
bangunan utuh yang duduk bersama, mata nanar yang memandang anak – anaknya
dengan dengan lampu rasa percaya. (haha, mungkin karna saya rindu bapak jadi
nulisnya keluar puisi).
Kritik sosial yang diceritakan dalam novel ini cukup jelas. Bahwa ketika seseorang mengejar sesuatu (dalam hal ini kekuasaan dan pengakuan diri) kepedulian pada beban hidup orang lain memang jadi hilang. Tidak peduli bagaimana keadaan sekitar, atau orang lain yang akhirnya menanggung beban, tapi toh yang penting tujuanku tercapai. Jamak kita temui di keseharian bukan?
***
Dari sosok – sosok
yang berbeda, dengan tugas yang berbeda, tantangan sehari – hari setiap orang
yang berbeda pada akhirnya selalu ada benang merah yang menghubungkan. Dari
kabar dicari pegawai sirkus lewat instalatur listrik cerita mengalir menjadi
kisah romantika dua anak. Jangan dibayangkan cerita cinta – cintaan utopis.
Sama sekali tidak. Ceritanya bekerja dan mengalir sangat logis. Dimulai dari
saling menemukan kekaguman satu sama
lain pada usia anak - anak, lalu pencarian – pencarian yang lucu sekaligus erat
dengan perjuangan bertahan hidup. Mengalir. Sampai berujung pada ikatan orang –
orang dalam cerita tersebut yang terhubung erat satu sama lain.
Cerita yang sangat lugas dan dekat. Andrea Hirata selalu
begitu.
07112017
21:57
Comments
Post a Comment