Posts

EDISI LAMA G POSTING = EDISI MELANKONIS

Apakah cinta selalu menghadirkan air mata? Kata Faiz pada sang bunda. Tersenyum dikulum saya mendengar dan mengiang kata itu. Butuh beberapa saat lamanya saya terdiam. Butuh beberapa waktu lamanya saya menangkap apa yang sebenarnya ingin si Faiz raba dari rasa sang Bunda seiring kepolosan pola pikir bocah mungil kala itu. Sayang sekali saya bukan bundanya. Sayang pula saya tak ada diantara dua anak ibu ini saat ada kata terlontar dari si mungil kepada sang bunda. Jikalau saya ada, saya akan katakana, bukan hanya selalu nak, bukan hanya selalu air mata dihadirkan ketika sudah bicara cinta, sekali lagi, tidak hanya selalu, tapi memang keniscayaan. Saya barusan membaca serial cintanya Ustad Anis Matta. Buku lawas yang saya pinjam dari perpus JMG, SKI Fakultas. Saya terhenti pada bab 17. Indahnya memberi. “…….para pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka : memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu.  Menerima...

CERITA TENTANG AKSI

Ada banyak cerita dari aksi beberapa hari ini. Berawal dari hari apa aku lupa. Seruan pertama datang, dari orang yang tak begitu kukenal. Hanya aku tahu, beliau pernah menjadi orang penting di fakutas sebelah. “Seruan Aksi! Peduli pilrek. Pembatasan umur!” Glek. Apa apaan ni. Pilrek. Ia tanggal berapa? Baru ku ingat, tinggal beberapa waktu yang tak bisa dikatakan lama lagi. Dan massa aksi, tak lebih dari 20 orang. Selang beberapa waktu. Media bergulir satu satu. ada apa yang terjadi di lingkup elit? Banyak yang tidak tahu dan tidak terbaca kaum awam. Kecuali yang mau satu satu search dan nanya nanya, atau baca notes notes di wall wall FB orang orang Isipol yang banyak mengupas mengulik tentang isu ini. Pun ini. Masih sedikit yang peduli. Oya. Tentang aksi perdana bermassa 20 orang tadi, ialah berasal dari orang orang peduli yang mengatasnamakan Garpu. Entahlah filosofinya. Yang jelas mereka bicara dan bekerja. Tak diam. Karena diam berarti pengkhi...

SMA Teladan, toko Buku TOGA MAS, dan Cerita Cerita tentang Mimpi dan Perubahan

Image
SMA Teladan itu “mbak, ada undangan wali murid dari sekolah. Selasa, 12.30 di ruang 205.” Bunyi sms yang singkat. Padat. Tanpa basa basi. Khas adik semata wayang. “undangan? Selasa ya, ok. Diusahakan.”   Reportnya, sent. Terkirim balasanku. Selasa. Kuliah blok selesai, jam 10.30an. Tentang kebutuhan air, dan sedikit tentang studi kasus Gunung Kidul bumi Karst.   Lanjut tugas kelompok. Tidak banyak yang dikerjakan kecuali nyicil laporan akhir yang kayaknya harus dikumpul akhir bulan ini, beriringan dengan usainya perkuliahan blok Evaluasi Lahan Air. Jam 1 kurang, izin ke teman teman kelompok, ke asisten, chao ke Wirobrajan. Sekolah teduh diantara ramainya jejalanan. Sekolah yang katanya Teladan (benarkah ia menjadi Teladan? Allohu A’lam. Yang jelas kepentinganku datang tak lain tak bukan adalah semata menemui wali kelas adikku. Tak kurang tak lebih.  Ruang 205. Sebelahan dengan ruang kelas Bahasa. Jadi ingat masa masa SMA. Ruangan ...

JAWABAN KENAPA KITA INI ADA

Organisasi ini, organisasi itu, perkumpulan ini, perkumpulan itu, komunitas ini dan komunitas itu, atau entah berapa banyak lagi gabungan gabungan, kelompok kelompok hobi, dan keluarga ini keluarga itu yang diikuti. Banyak, dan luar biasa. Ialah ketika kita memutuskan diri untuk tak sekedar hidup bagi diri sendiri. Tapi bisa memberi arti, kontribusi (kalo yang ini berat), dan bisa mewarnai   lingkungan kita dengan kebermanfaatan kita bagi selainnya.   Perkara ada sertifikat, dapat konsumsi gratis yang memikat, lebih lebih eksistensi dan dikenal banyak orang karena posisi yang tengah kita tempati itu adalah efek samping yang niscaya dan pasti kita peroleh sebagai konsekuensi logis sunnatulloh takdirNya. Tapi kita telah belajar lebih dari itu. Lebih dari sekedar panjangnya kelak CV yang akan kita buat suatu ketika. Lebih dari itu. Meskipun tak kita pungkiri, ini pun tetap perlu. Kita punya cita cita langit. Visi yang mengangkasa. Mimpi yan...

DUNIA KEJUJURAN, YANG SEMAKIN TAK MUDAH DIJALANI

Rabu, 6 Maret 2012 Aksi aksi tolak korupsi, sampai kadang bosan mendengar dan mengikuti, terus disuarakan oleh orang orang berhati nurani bersih dan optimis. Ajakan untuk “jangan nyontek”, “Alloh selalu mengawasi” dan sebagainya dan sebagainya, sering terdengar sampai nada nyaris menjadi fals dan sumbang. Dan banyak keoptimisan keoptimisan yang terus terjerit lirih tertelan deru kekotoran zaman yang kian tak perawan. Ya. Kejujuran, semakin tak mudah untuk dijalani. Hari ini, sore ini, di masjid Nurul Islam Jakal km 5an saya tertahan untuk segera pulang, agak gerimis, sebenaranya bisa diterobos juga sih, tapi Wifi gratisan di Nurul Islam terlalu sayang untuk dilewatkan #nah lho. Baru saja pulang dari kampus, ada satu hal yang kian mengganjal, yang saya belum bisa memecahkan akar permasalahannya bahkan. Tentang kejujuran. Secara teori, mungkin itu teramat mudah. Secara dalil dalil ‘aqli dan naqli, hafallah mungkin kita beberapa, atau minimal pernah...