Menakar harga sebuah Janji



Hari ini, 9 Juli 2012, jam 2 siang. Adalah hari waktu seharusnya saya berada di Pasar Sleman, Jalan Magelang km 9-an. Ketemu adik saya semata wayang, mengantar beliau ke satu tempat. Tempat yang tak istimewa sebenarnya, tapi tetap memiliki arti bagi kami berdua.
Janji ketemu sesungguhnya telah dibuat jauh hari, sekitar empat atau lima hari yang lalu. Saya dalam hati telah menyungguhi betul betul agenda hari ini. Bukan apa apa. Saya hanya ingin sedikit waktu dengan keluarga adalah berarti penuh, pada kualitasnya.
Namun ternyata disini saya dibelajarkan, arti menakar janji terhadap kredibilitas saya pribadi. Ketiduran. Ya. Sederhana.alasan yang sangat menyakitkan bahkan bagi saya sendiri yang melanggarnya. Saya tertidur pasca sholat dhuhur, sampai kemudian terbangun jam 4 sore. 12 miscall di hape saya dari adik, 8 sms masuk menanyakan mbak nyampe mana, diakhiri ya udah mbak, saya pulang lagi aja.
Alloh. Apakah saya termasuk golongan orang munafik? Yang salah satu pencirinya apabila berjanji selalu ingkar?
Betul memang. Dari nada pesan yang masuk adalah biasa biasa saja. tidak ada nada marah tidak ada nada jengkel atau umpatan. Padahal biasanya kata kata kurang bagus terbiasa adik saya kirimkan ketika beliau tengah kurang berkenan dengan apa yang saya lakukan, kurang suka dengan cara saya menyikapi perbedaan pandangan. Tapi  justru karena itu, ya, justru karena kedatarannya cara ia bicara pada kata, adalah beban tersendiri bagi saya yang kenal betul siapa dia.
Menakar harga sebuah janji?
Apakah ketika saya meretas perjalanann bisnis berdua, kemudian saya memilih melanjutkan sendiri karna ketaksabaran saya memahami pola kerjanya adalah juga bentuk pengingkaran saya terhadap janji?
Apakah ketika saya meminjam uang kemudian berjanji akan mengembalikan pada tanggal 23 di tiap tiap bulannya lantas ia molor pada 5, 6 bahkan 10 hari dibelakangnya adalah bentuk saya menakar janji dengan harga yang serendah pengingkaran?
Atau, apakah  ketika saya mendaftar pada satu institusi atau organisasi, kemudian saya mengikuti sekehendak hati ketika tak semua tujuan masuk terpenuhi adalah juga lemahnya saya menakar harga atas begitu bernilainya ikrar awal bernama janji juga?
Apakah ketika saya tak sebenar sungguh menghadiri agenda agenda pada jam yang telah disepakati adalah juga kerendahan dalam menghargai diri sendiri atas pengingkaran janji?
Dan banyak lagi kata kata sederhana yang terucap dan adalah bernilai janji. Entah pada orang lain terlebih pada diri sendiri. Janji akan amalan yaumi perhari. Janji target baca yang harus dilakoni. Janji kerja keras dan totalitas dalam amalan amalan sehari hari. janji dan janji. Bahkan sampai terlupa membedakan, mana sesungguhnya itu ucapan bernilai janji, mana itu ucapan yang sebatas basa basi.
Bahkan saya terkadang berpikir berkali kali. Janji itu nyaris sama dengan meminta amanah. Ya. Meski sederhana. Saya meyakininya itu. Mungkin agak berlebihan. Tapi bagi saya, berjanji berarti melibatkan rasa orang lain untuk mempercayai saya, bahwa saya bisa melakukan sesuatu sebagaimana saya janjikan. Sederhana. Tapi bukankah ia begitu bernilai terhadap harga sebuah diri? Layaknya amanah kerja yang juga berarti demikian.
Maka kadang, sekecil apa kata terucap, sedikit tindak yang didalamnya ada konsekuensi orang lain percaya pada diri saya, itu bernilai janji. Ya. Janji. Yang disitu bernilainya diri kita diuji. Penghargaan pada diri sendiri, penghormatan pada diri sendiri atas tingkah yang terlaku dalam keseharian juga terbacanya ia dari sana.
Sederhana.
Siapa saya. Siapa kita. Dari ucapan ucapan sederhana terucap yang bernama janji, dari tindak tanduk yang itu menjadikan kepercayaan orang jatuh atas diri saya, diri kita, itulah janji. Janji yang bernilai penghargaan atas kita sendiri, seberapa kita menjadikan diri bernilai, berkehormatan, adalah ternyata dari nilai nilai saya, nilai nilai kita, menilai janji janji yang terucap dari lisan lisan saya, lisan lisan kita.
Meskipun teramat sering, tak disadari. Tapi sadarkah bahwa lawan janji begitu semat ia dihati atas ucapan saya, ucapan kita? Begitu semat ia akan janji yang kita beri? Dan disitulah, nilai atas diri kita, nilai atas penghargaan pada diri kita pribadi teruji..

Comments

Popular posts from this blog

Bunga Bunga Kamboja : Semua akan Berakhir pada Akhirnya