FIRASAT KEMENANGAN
Sehari tadi. Cuaca pagi sebenar benar cerah. Langit biru,
awan berarak. Ramai. Cerah. Dan mendadak perasaan penuh membuncah. Keluar
asrama dan menatap ke utara, kalo bisa saya teriak dan melonjak tinggi, saya
akan katakan keras, sangat, “Merapi! Kau cantik s’kali pagi ini!” tapi sayang,
menuju ke kampus artinya saya harus balik kanan, mengayuh kemudi sepeda ke
selatan, membelakangi merapi. Tapi tak tahu kenapa, seolah merapi melambai dari
belakang, melepas kepergian, “Belajar sungguh sungguh Fathim! Tak peduli kau
dapati pelajaran hari lewat manapun! Dari meja di mana orang ramai ramai
diskusi, dari tumpukan sampah yang menggunung di tepi sungai, dari orang orang
dan pertokoan di kiri kanan yang kau lewati, dan apapun itu! Belajar sungguh
sungguh Fathim!” begitu kira kira pesan imajiner merapi yang melambaikan
melepas kepergian pagi ini. Langit cerah. Sangat.
Perjalanan selanjutnya adalah menyusuri ramai pagi lingkar
utara jogja, maju bersama desingan
klakson dan kepulan asap kendaraan aneka merk aneka tipe aneka bentuk. Sepeda pinjaman
kakak kelas yang baik hati dan tidak sombong, mengambil sela antar kerapatan
kendaraan yang begitu ramai. Dan pandanglah ke barat arah kau menuju melarikan
sepeda, dua anak kembar, Sindoro-Sumbing, mengulur senyum penuh arti. Langit
cerah pagi ini sangat.
Betapa. Dari mana datangnya suasana, darimana datangnya
sugesti, darimana datangnya motivasi, dan darimana datangnya rasa percaya diri?
Pagi yang cerah. Dan saya mengingati, semua yang kini teralami adalah
barangkali yang dulunya hanya mimpi. Ya. hanya mimpi. Langit pagi yang cerah.
Sangat.
Pagi yang cerah. Berlangsung hingga matahari melewatkan
batas tengah
kulminasinya. Masih teramat cerah. Mengiringkan banyak agenda agenda penting
yang tengah berlangsung di kampus tempat sejenak singgah mencecap
hikmah hidup dan menitip sejenak karya kecil dan sepaut eksistensi diri. Cerah.
Mengoptimiskan harapan baru di tengah riak riak bunyi bunyi skeptis. Hati
begitu membuncah, terngiang jelas kata kata Andrea Hirata via Arai-nya yang
melompatkan ekstrapolasi hingga menanjak melewatkan kurva kurva eksponensial.
Optimis kawan! Karena pesimis tak lebih dari kesombongan mendahului nasib! Fix.
Dan matahari mulai menggelincir. Mendung mulai menggantung,
dan kemudian butir butir sebesar bulir nasi turun satu satu. Hujan. Birunya
langit kini kelabu. Ketakjujuran dan ambisi yang tak lempang, masih menodai
putihnya niat perbaikan kawan. Sms himbauan, kicau kicau kekhawatiran, dan
status berona kekecewaan makin memendungkan siang yang telah berawal pagi
dengan begitu cerah.
Kemudian terngiang bisik bisik bersatulah kaum proletar
lawan rezim! Tetapi bercampur pesimis sarkastis yang tak henti henti berdenging
denging.
Ini salah! Ini proses bid’ah! Tak sesuai sunnah! Kata orang
orang berjubah putih.
Denging kian mengerumun disamping telinga kanan. Aku miskin
ilmu agama. Dan suara suara langit terus mendesak mendengingkan fasal fasal
yang kian tak dapat dicerna dalam waktu yang sesempit ini. Dalam logika waktu
yang tinggal terhitung limit, bekal keputusan bahwa ini musyawarah, fiqih
prioritas, su’u dzaroi’, dan maslahat mursalat yang kini jadi pijakan. Kalo
benar, jadikan ini kebenaran yang mendatangkan berkah, kalopun tak benar,
luruskan dengan pemahaman yang tak menimbulkan kedengkian – meski sedikit – di
hati sesiapapun, dan membuat kian merasa dangkal dengan ilmuMu yang maha luas.
Rintik itu kian menderas.
Permainan permainan tangan tuhan. Berbusa busa menjadi
obrolan di grup grup yang entah sejak puluhan pekan silam tak juga terselam.
Dari sejak bahkan perhelatan ini masih berupa wacana dan baru proposal proposal
anggaran dana. Sampai kini, dan ianya berhasil menyeleksi, dan yang tak tahu,
kini pun kian jauh dari genggaman jemari padu. Pada yang seperti itu, dalam
wilayah sesempit ini, aku hanya berlantun kasihan. Atas nama apa menjual
kepercayaan langit, dan kini memcerai berai ikatan yang mulai padu. Pada yang
seperti ini, aku miskin ilmu akan
rekayasa dan siyasi. Maka aku memilih, pada yang seperti ini, aku pantas merawat
kasihan, dan berharap suatu waktu bertemu titik terang. Smoga bukan sebatas
kecewa dan ambisi yang tak terjembatani yang membuat sikap manusia menjadi
sulit dimengerti, karena sungguh, setelah pandai dan mumpuni, kita perlu tambah
beberapa hal lagi, sabar dan rendah hati.
Dan derasnya air tak henti mengguyur perhelatan ini.
Optimis memang bukan persoalan permulaan saja. Bukan
persoalan di awal niat saja. Bukan! Optimis adalah bahasa lain juga untuk
mendefinisikan istiqomah. Di awal, di tengah, dan di pengakhiran.
Rintik yang menderas, kian seksama kian di dengar, iramanya
tak lagi gemuruh tak beraturan. Kini seksama, seksama didengar, seksama
dicermati, iramanya membentuk satu tangga nada. Langgamnya harmoni. Dan senar
gitar imajiner terpetik mengalun. Hujan deras pun berubah menjadi irama,
menjadi original sountrack perhelatan setitik gubahan sejarah di kampus yang
biru dengan harap harap merah hijau biru menjingga. Dalam susah senang, dalam
hening riuh, semoga orientasi kita tak pernah berubah. Cukup satu : Berkah.
Merapi telah mengawali dengan senyum cantiknya yang berarti,
yang bayangannya masih tak terhapus sampai kini meskipun tak terabadikan lewat
lensa lensa nikon dan fuji. Juga Sindoro sumbing yang meraupkan keoptimisan tak
henti, bahkan alunan senyumnya masih membekas, walau susah terdefinisi, juga
rintikan harmoni nada lagu yang tercipta lewat langgam senar gitar hujan hingga
malam ini. Kesemuanya kawan. Adalah firasat. Yang tak perlu ditafsiri karna itu
mendekatkan kita pada membeloknya aqidah.
Dan kemenangan itu hak kita Kawan. Irama deras air hujan
bagai irama musik haroki ‘Indonesia Memanggil’ dan ‘Harapan itu S’lalu Ada”.
Kemenangan itu hak kita kawan!! Mari Songsong kita songsong dengan kesungguhan,
hingga detik akhir kita bisa mengupayakan ikhtiar :)
Multazam 7
(Masih 18 Desember) Lewat Tengah
Malam


Comments
Post a Comment