Masih tak Mengerti Bagaimana Berkisah tentang Sebuah Mesir


Di pondokan, dalam malam yang beranjak larut. Menghadap leptop, dan sebagian masyuk dengan hape.

“ah Mbak, bisakah kau jelaskan pada kami apa yang terjadi dengan Mesir?”

Sebuah kata tanya dari seorang Sese.

Zulfa menyusul, “Iya Mbak, semua sosmed bicara tentang Mesir. Ngk ngerti deh.”

Itu 4 hari yang lalu.

Ah Mesir. Bahkan aku tak sekedar menyempatkan waktu untuk menengok perkembangan dari tiap hari ke harinya.

Mesir-pemerintahan diktator Hosni Mubarok-kemudian tumbang-proses pemilihan (yang dalam banyak berita selalu berkisah betapa demokratisnya ia dijalankan)-Mursi terpilih, dengan segenap gempita rakyat, dengan segenap pendukung, lintas gerakan, lintas kondisi-setahun berjalan-dan kudeta yang mengejutkan. Sampai hari ini. Akan militer yang dipimpin Sisi, merebut paksa kekuasaan yang didukung banyak rakyat-bersitatap dengan rentetan senjata-dan berlanjut-sampai hari ini seperti apa.

Ah Mesir. Aku mengenalnya bermula dari hal yang sederhana.

Disaat sedari SD, setiap bacaan sejarah, Mesir hanya selalu berkisah tentang Terusan Suez dan penjajahan Inggris-Prancis. Tetapi pada satu titik di masa kemudian, Mesir adalah sebuah buku cerita baru yang berkisah nostalgia-nostalgia.

Nostalgia??

Ah Rupanya tidak juga.

Aku mengenalnya dari buku-buku tipis. Bukan. Dari majalah-majalah tipis yang berkisah epik-epik. Aku berkenalan dengannya.

Rupanya Mesir menyeret jauh pada satu pusaran yang mempesona, berawal dari satu dua tokohnya. Dari gambaran latar dari buku romantika Ayat-Ayat Cinta dan semisalnya dari pengarang yang sama.

Selebih dari itu, buku-buku berkisah sebuah tanjakan asa yang disemai dari warung-warung kopi yang sederhana. Enam orang, melingkar bertambah, menjadi berlapis orang, berlapis, berlapis, sampai membentuk batalyon-batalyon yang dikirim ke sisi Palestina yang dicaplok mereka, pada Yahudi laknatulloh. Disanalah pusaran Mesir semakin menggelora. Satu tokohnya, mula-mula. Sang pembangun-kemudian begitu banyak orang memanggilnya.

Kemudian tentang keluarga yang dibangun, tentang nasehat lewat surat-surat yang dibukukan dalam majmu’atur Rasa’il, kota-kota Mesirnya menjadi familiar-Iskandariah, Kairo, dan berupa rupa lainnya.

Hal hal yang sederhana itu, menyadarkan bahwa Mesir bukan hanya Nil dan Suez. Tapi jantung Mesir adalah pada hal yang kasat mata : Bernama kekuatan tak kira-kira, saat hati yang begitu cinta pada Agama dan Rabb-nya, disentil sedikit saja. Apatah dirobohkan bangunannya, sekedar di hina dengan cibiran atas agama ini, Mesir, yang jantungnya adalah jiwa-jiwa pecinta syurga, segera bangkit untuk ambil siaga.

Lagi-lagi tak hanya sekedar Mesir.

Tapi kekuatan wibawa Islam yang dibangun dari sana mula-mula.

Kini telah menyebar, ke segala pelosok paling terpencil di tiap-tiap ujung dunia.

Beranjak besar, belajar atasnya beralih pada menelisik metode-metode. Bagaimana kekuatan jiwa itu dibangun. Lagi-lagi asal peletak metode adalah sekitaran Mesir.

Belajar tentang agama ini, islam ini, yang tak selesai pada rumah-rumah ibadah dan ritual-ritual. Yang tak cukup dengan mulut berbusa melafal mantra sampai lupa urusan-urusan dunia. Juga bukan kaki-tangan yang lelah di setiap waktu mengejar harta melupa kampung yang abadi di akhirat sana.

Ah. Lagi-lagi soal Mesir.

“Ini bunga mbak, tadi dari Jogja lewat titik 0 aku dikasih ini,” lagi-lagi Sese. Di sehabis Tarawih bunga dikeluarkan dari tas yang dibawanya dari Jogja.

Bunga kertas. Berwarna merah. Merah menyala.

“Mbak, ceritakan padaku tentang Mesir.”

Atas nama kemanusiaan kah? Atas nama Mesir adalah saudara yang mula-mula mengakui kemerdekaan negara ini-kah? Atas nama Presiden Mursi-dan para ikhwan dari Mesir yang mengulur segera di kejadian bencana-kah? Atau perlu kutata ulang penyampaian bagaimana Mesir meng-kudeta atas berjuta alasan penurunan paksa yang tak juga ku mengerti?

Aku memilih diam.

Masih tak mengerti bagaimana harus berkisah tentang Mesir. 80 tahun lebih bagaimana Mursi bisa menjadi sebagaimana hari saat beliau terpilih. Juga bagaimana hari ini Militer beringas merebut paksa yang bukan haknya.

Aku memilih diam. Mawar merah menyala bertulis link petisi : bismillah. Sesungguhnya setiap muslim di setiap penjuru dunia bersaudara. Persaudaraan di bawah langit yang memayungi bersama, persaudaraan hati saat ta’jub pada sinaran matahari yang sama. Persaudaraan cinta di atas cinta.



Comments

Popular posts from this blog

Bunga Bunga Kamboja : Semua akan Berakhir pada Akhirnya