Posts

Kelegaan

Image
Lega itu, bukan soal kita kehilangan apa dan mendapatkan apa Lega itu, soal kita sudah berusaha semaksimal apa sejauh mana. Selebih itu, adalah kuasa Alloh dalam kita menyandarkan hasil sepenuh pasrah padaNya. Karena bagi kita, tidak ada alasan untuk tidak bahagia :D Ah iya, saya jadi ingat satu peristiwa di KKN. Jum’at pagi, saya ngajar di SMP N 1 Lendah, bersama mas Agus, Gias, dan Debi. Di tengah-tengah kami memberi training motivasi ke anak-anak smp, hape saya bunyi dan saya buka, sms dari Zulfa. Ya. sms itu tentang dia, zulfa yang ditegur bapak-bapak samping masjid tentang anak-anak KKN. tegurannya agak kasar, kira-kira, anak-anak KKN tu ke dusun sini pindah tidur aja ya, ngk pernah muncul di kegiatan-kegiatan masyarakat. Malamnya kami anak satu sub  unit ngumpul dan evaluasi terkait kegiatan selama ini. Ohya, kejadian ini ada, kira-kira kami dua minggu di lokasi KKN. tentu kami masih baru dan masih fase observasi dan adaptasi kira-kira begitu. Ya, memang. ...

KKN (pada akhirnya)

Kaget sudah bersama selesainya masa KKN. Tekad untuk senantiasa menuliskan satu dua lembar di blogspot pengalaman harian, terbang sudah bersama aktivitas yang lebih sering melebihi tengah malam. Banyak pengalaman sudah barang tentu. Sebagaimana dulu di awal KKN aku pernah sampaikan : KKN itu semua mahasiswa UGM strata 1 mengalaminya, jadi sejatinya ia adalah persoalan yang biasa saja, tapi dalam setiap individu, sekalipun dia beriring berjalan bersama-sama, pasti perjalanan yang satu dan selainnya beitu berbeda. dan, pasti istimewa. Ya. KKN dalam kurun waktu dua bulan, KKN dalam pembelajaran bermasyarakat yang sangat realistis, membawa satu bekal harta begitu berharga bagi kaum terpelajar seperti saya : idealisme, sudah barang tentu, benturan-benturan berharga yang mengayakan pikir dan jernih jiwa semakin bertubi-tubi datang adanya. Begitulah. Awal membangun kelompok yang lebih sering disisipi rasa pesimis. Awal pembagian keseluruhan jumlah anggota yang dibentuk LPPM, samp...

Masih tak Mengerti Bagaimana Berkisah tentang Sebuah Mesir

Di pondokan, dalam malam yang beranjak larut. Menghadap leptop, dan sebagian masyuk dengan hape. “ah Mbak, bisakah kau jelaskan pada kami apa yang terjadi dengan Mesir?” Sebuah kata tanya dari seorang Sese. Zulfa menyusul, “Iya Mbak, semua sosmed bicara tentang Mesir. Ngk ngerti deh.” Itu 4 hari yang lalu. Ah Mesir. Bahkan aku tak sekedar menyempatkan waktu untuk menengok perkembangan dari tiap hari ke harinya. Mesir-pemerintahan diktator Hosni Mubarok-kemudian tumbang-proses pemilihan (yang dalam banyak berita selalu berkisah betapa demokratisnya ia dijalankan)-Mursi terpilih, dengan segenap gempita rakyat, dengan segenap pendukung, lintas gerakan, lintas kondisi-setahun berjalan-dan kudeta yang mengejutkan. Sampai hari ini. Akan militer yang dipimpin Sisi, merebut paksa kekuasaan yang didukung banyak rakyat-bersitatap dengan rentetan senjata-dan berlanjut-sampai hari ini seperti apa. Ah Mesir. Aku mengenalnya bermula dari hal yang sederhana. Disaat ...

Bersama Mereka Mari Belajar Mengerti : Tak Instan

Kamu harus selalu ingat, di dunia ini tidak pernah ada sesuatu yang baik yang itu tercipta dengan instan.  Percayalah. Jangankan hanya makanan atau mie instan, perubahan-perubahan nasib seseorang, perubahan besar yang berhasil diciptakan di tengah masyarakat, perubahan pola pikir dan tingkah laku yang dipunya satu dua orang, tercipta atas proses yang berproses. Tercipta atas proses yang terdiri atas dakian-dakian yang menaik, yang sudah barang tentu, menyisa dan menghadapkan di muka kita, tantangan-tantangan tak sederhana. Itulah kesimpulan dari banyak kejadian di hari ini. Lagi-lagi soal masyarakat. Masyarakat yang sudah mapan pula. Masalahnya adalah ketidak tampakan dan ketidak mudahan menemukenali masalah. Hei. Ini hanya soal ketergesaan dan kemauan untuk ber-instan itu tadi. Jadi inti utamanya adalah : keinginanmu untuk segera tahu dan menyelesaikannya secara instan. Padahal sudah kubilang berkali-kali, bahwa instan tak menyisakan apa-apa kecu...

Malam ini Sedikit Beda

Sudah jam 10 malam, dan Hafid sang kormanit datang ke pondokan. Mengembalikan motor Sese, dan sedikit berbagi helaan nafas. KKN ini memang istimewa. Sesore sampai habis maghrib, ada sidak LPPM. Bukan sembarangan. Bapaknya LPPM yang sidak, bapak kabid KKN LPPM, adalah Pak Irkham, bapaknya Zia yang jadi kormasit di Sempu, salah satu sub unit yang diujung sana, bertolak ujung dengan Senik sub unit saya. Jadilah diskusi dan banyak suara bersahutan, di malam yang semestinya sudah beranjak sepi. Dia si Hafid bercerita atas kritik saran Pak Irkham secara emosional, disusul Rieska yang juga mendengar langsung bagaimana Pak Irkham bercerita. Anak se sub unit mendengar seksama, diselingi timpaan tanya dan komentar diantaranya. Pemberdayaan,... ya LPPM minta menuhi jam. Bagaimana beban K1? K2? ...harusnya ya sudah, masuk ke masyarakat ya masuk saja.. kalo tanpa ada beban semuanya bisa lebih leluasa.. Rujukan kita tak harus ke tokoh.. masuki lapis lapis masyarakat akar rumpu...

Melon yang Gagal dipanen

Kalo di lagu Mahadewi-nya Padi ada lirik “hamparan langit maha sempurna, bertahta bintang-bintang angkasa” maka di sekeliling Senik dusun tempat tinggal kurang lebih di dua bulan ini, yang terhampar adalah sawah hijau yang bertahta melon. Banyak. Luas. Sejak hari kedua kami tiba, mainlah kami ke sawah. Tapi sebelum sesampainya kami ke sana, lewatlah kami ke beberapa rumah pak RT. Ber-sosialisasi dan ber-observasi begitu kira-kira kalo mengikut bahasa LPPM. Di tempat pertama rumah pak RT yang dikunjungi, kesasar kami ke RT dusun sebelah. Tapi tetap saja, semua berjalan dengan lancar dan tanpa aral berarti. Bapak RT cerita cukup banyak, tentang keluarganya, juga lain-lainnya. Dengan tak lupa menyitir satu kalimat, “pak dukuh kami gagal panen melon di musim ini,jadinya pikiran beliau cukup terganggu.” Prihati kami mendengar cerita. Tapi tak berlangsung lama karna jiwa anak muda yang masih melekat di benak kami mengalahkan cerita menyedihkan tadi dengan tertawa setelah sadar...

Warna KKN

 “apa sih istimewanya Pak Barjo?” begitu kurang lebih pertanyaan Gurit sekian jam sebelum keberangkatan. sebuah pertanyaan yang tak butuh jawaban. Tapi walhasil, Kamis malam persis jam 8 anak se-sub unit siap berangkat. Walau ternyata terpaksa mundur karna kultum tarawih belum selesai, dan kemudian balik kanan kembali  menanti di halaman rumah pak As sampai sekitaran 20 menit sambil makan Kitkat yang dibagi-bagi sama Agil. Rombongan ibu-ibu (dan bapak-bapak) tampak mulai pulang dari masjid, dan berangkatlah anak serumah k etempat tujuan, Rumah Pak Barjo. Seorang bapak yang baik, suka ngemong rismas Husen (ini nama remaja masjid dusun Senik), yang juga sekretaris takmir al Husna sekaligus sekretaris kelompok perikanan dan peternakan "Sami Laras".  Bu Barjo yang ramah dan murah senyum memasukkan kami segera ke rumahnya yang kamar tamunya luas memanjang. Selang sekian menit Pak Barjo datang, berucap salam, dan meminta semua anaknya (dan putri-putri semua te...