Soal Kebanggaan


“Emang ada yang salah ya mbak dengan tarbiyyah? Kok diminta muncul pada malu-malu gitu. Nunjukkin ke-tarbiyah-annya gitu ke orang-orang. Padahal kan? kita nggak melakukan yang macem-macem kan mbak? Yang kita lakukan juga untuk kebaikan, untuk kemaslahatan, kita ikut agenda-agenda lembaga juga jadi orang yang menghidupkan, bukan ke sana sekedar asal ada.”

Lagi lagi soal kebanggaan. Dulu pas masih jadi siswa aliyah, kalo lagi kompetisi atau ngumpul anak-anak OSIS antar sekolah, saya pribadi juga acapkali merasa ada sesuatu yang ‘beda’. Saat aktif di SKI terkadang juga sama, muncul malu-malu kalo disuruh bawa bendera SKI di depan masyarakat luas.

Allohu a’llam. Pertanyaan seorang adik kelas di sebuah sore bersama hujan, menggelitik pikir. Bangga itu efek, atas keyakinan yang melahirkan keberanian. Dalam kebersamaan, konteks komunal, atau dalam kesendirian. Bukan hanya ketika terlahir menjadi muslim, yang kemudian bangga dengan identitas kemuslimannya, berjilbab rapi misal dia seorang muslimah. Ber-rok lebar, tetap nyaman meski harus naik turun perbukitan ngukur lereng pegang yalon. Bukan asal beda, tetapi tetap nyaman dengan identitas dan tetap membaur dalam kebersamaan pluralitas komunitas.

Juga ketika harus bersama-sama. Bukan asal aman bergabung dan rame-rame meneriakkan kata sama laiknya koor. Tapi memang kebersamaan yang dibingkai paham dalam kebersamaan yang tak sekedar merangkai romantika-romantika.

Lagi lagi soal bangga.

Aku anak tarbiyyah. Tetapi rasa bangga adalah efek otomatis dari pahamnya kita atas pilihan kenapa milih manhaj tarbiyah ini. Bukan sekedar karna nyaman-nya komunitas, tetapi juga pada saat-saat ketersendirian atau keterbingungan. Karna kebersamaan –kalo kata Ust Rahmat Abdullah- adalah amunisi untuk berdaya guna ketika sendiri. Membuka peluang kebaikan baru ketika berada di tempat yang tak nyaman-nyaman saja.

Memang soal bangga. Bukan soal membuta pada kelemahan yang masih dipunya oleh orang-orang yang menisbatkan diri sebagai anggota darinya. Karena manhaj itu tak cela, tapi karna kekerdilan dalam melakukan dan menaati tata aturan, kadang manhaj itu justru tertutup oleh buih belokan manhaj yang belum dijalankan dengan tepat.

Dus, islam. Dengan segala derivat multitafsir yang sampai hari ini melahirkan banyak gerakan, jama’ah minal muslimin, adalah satu kata kunci yang mengembalikan diri pada frase bernama Bangga. Karna bangga seketika mampu menyisir rasa takut, juga menyisir rasa kerdil, melahir rela berjuang dan rasa merdeka atas jajahan ketakutan dan kekerdilan di hadapan sesama manusia.

Inilah islam. Dan inilah soal bangga memaknainya.

Tarbiyah sebagai satu step dan satu metode yang kita yakini menjadi satu bagian solusi diantara ancaman sporadisasi yang kerap digembor oleh para orang yang tak suka, juga harus dikerjakan dengan bangga. Tak sekedar di saat ramai-ramai riuh rendah banyak teman, tetapi berlebih-lebih disaat memang harus sendiri, bersepi-sepi, dalam peluang rasa takut-takut yang seringnya muncul karna sedikitnya penguat bahwa kita berada di jalan yang benar.

Lagi lagi, ini soal bangga. Soal bangga pada islam kita, soal bangga dengan kebenaran metode kita. Bukan yang membuta, bukan pula yang tanpa ilmu untuk menjiwainya.

20 Juni 2013
19.47



Comments

Popular posts from this blog

Bunga Bunga Kamboja : Semua akan Berakhir pada Akhirnya