Posts

Untuk hari-hari yang sekarang aku rasakan lebih mudah dijalani, aku akan berusaha dengan penuh kesungguhan untuk mensyukuri itu. Segala hal tampak lebih ringan, langkahku lebih jelas, tujuanku lebih pasti, dan, dengan tahap demi tahap yang harus dilakukan sebagaimana layaknya manusia dewasa menghabiskan satu hari lewat satu hari, semuanya - dengan kekuatan penuh dari Allah - aku rasa bisa menjalaninya. Kukatakan lebih ringan, karena sejatuh-jatuhnya aku hari ini, aku berada di pusaran yang sepenuhnya ada untukku. Aku tahu tempat berpijak dan aku tahu kemana langkahku harus dipulangkan. Sesuatu yang aku cari-cari dengan susah payah di 10 tahun lalu. Aku tidak ingin menggali luka hari ini. Tapi kadang aku ingin dunia tahu keterus-terangku tentang betapa beratnya aku menjalani hari-hari di 10 tahun lalu. Hari-hari yang kalau tidak karena pertolongan Allah menuntun jalan, entah apa yang terjadi pada hari-hari itu. Wkwkwkwkkwkw... Sepertinya ini hanyalah caraku siang ini untuk mengurai agar...
Selamat ulang tahun, Fatim. Selamat menjadi pribadi yang semakin dewasa. Semoga langkah-langkah kakimu senantiasa berada dalam tuntunan Allah, semoga langkah-langkah itu hanya mendekatkanmu pada kebaikan-kebaikan dari Allah semata.. Seminggu yang lalu, seminggu menjelang umurku bertambah, aku mendapati diriku dalam sebuah situasi yang menjadikanku merenung lebih lama. Situasi itu menempatkanku pada posisi yang ternyata cukup sulit menghadapi kehilangan orang yang kita cintai-yang mana itu itu baru ada dalam angan, bukan pada kenyataan kehilangan yang sebenarnya-. Situasi tersebut membuatku sedikit merenung, bahwa ikatan-ikatan yang selama ini melingkupiku harus disikapi dengan lebih “tengah-tengah”. Ikatan aku sebagai istri kepada suamiku, adalah ikatan yang tentu saja bisa terlepas. Pengalaman satu hari menemani seorang istri yang ditinggal meninggal oleh suaminya secara tiba-tiba beberapa waktu lalu cukup mengajarkanku tentang itu. Ikatan aku sebagai seorang ibu bagi anakku, memiliki...
Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya.  Minggu depan, Sabtu 23 November 2024, usiaku masuk 33 tahun. Dulu kupikir orang dengan usia di atas 30 tahun itu orang yang sudah tua, dan benar kini dengan usia ini aku sudah menjadi orangtua, namun nyatanya aku belum sepenuhnya memiliki sifat "tua" itu. Ketika dalam perjalanan sehari-hari aku menemui masalah atau persoalan, tetap saja aku mencari-cari dalam ingatanku nasihat Bapak yang entah ia kutip dari majalah atau koran apa, tulisan siapa dan dia dapat di halaman berapa. Dengan segala ketidaksempurnaannya, Aku tetap saja mencari-cari suara beliau di tengah riuhnya kehidupan dewasaku.  Bapak, how's life up there? Kapan waktu aku mengikuti kajian. Dalam kajian itu disebutkan bahwa orang yang sudah meninggal masih bisa mengikuti kisah hidup orang-orang yang ada d...
 Untuk siapapun yang sedang duduk, berdiri atau rebahan membaca ini..  Seringkali, kita tersakiti justru dari orang yang paling kita cintai. Orang yang paling dekat lingkarnya dari diri kita sendiri. Mengapa? Jelas. Karna orang-orang terdekat inilah yang kita harapkan memberikan ketenangan, memberikan dukungan, dan tempat kita pulang ketika rasanya dunia tidak lagi menerima kita. Sehingga, ketika apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, atau justru memberikan tanggapann yang justru semakin menjatuhkan, rasa sakitnya pasti berkali-kali lipat.  Sakit dan kecewa adalah juga proses. Ada saat di dalam hidup kita yang memang harus melewati proses itu. Semoga mendewasakan. Untuk siapapun yang sedang merasa memilki masalah, masalah yang kau hadapi tidak kecil dan tidak remeh. Jangan katakan, "Ha, masa segini aja ngeluh, masa segini aja nangis, dia aja mereka aja si itu aja," jangan. Jangan katakan itu. Tidak ada masalah yang remeh dan mudah. Saat menghad...

#untitled

Apa bentuk adaptasi yang paling menguras emosi setelah memiliki anak? ... yash. Beberes rumah dan frasa rumah rapi. Benar benar ini memporakporandakan mental saya wkwkkw lebayyy. Tapi serius. Saya orangnya rapi. Suka kerapian dan suka merapikan. Beberes, bebersih, adalah sebagian dari nama tengah saya. Hal ini tidak lepas dari bawaan sejak kecil. Diantara anak 3, mas Aris, saya dan Astri, saya yang bisa dibilang disiplin rapi2 dari kecil (wakakaka selfclaim jelas). Tapi benar, saya akan meletakkan tas dan sepatu di tempat yang seharusnya. Saya akan selalu menutup tempat makanan yang terbuka, saya akan menyapu rumah yang kotor dan akan menata toples pas lebaran tiba. Saya ingat waktu jaman SMP saya cukup terkenal di seantero sekolah (dan luar sekolah) sampai profil saya dimuat di majalah BAKTI (majalah di lingkungan departemen agama kanwil DIY), ada pertanyaan saat libur sekolah besok rencana mau ngapain..? Saya jawab, mau rombak kamar dan beneran dimuat dong kata "rombak kamar...

HaiHatta : 2

Meskipun Hatta lahir di waktu pandemi, Alhamdulillah sekali proses persalinan berjalan normal, tidak ada kendala berarti. Usai dipindah ke kamar rawat inap, bergantian dokter anak, bidan jaga dan juga tim logistik mendatangi kamar kami bolak balik. Alhamdulillah juga saya dan hatta tidak ada acara terpisah kamar. Dari IMD, bersih-bersih sampai tenaga saya cukup pulih kami selalu bersama. ASI juga dicek langsung keluar di hari pertama. Disinilah perjuangan lain dimulai. Bun, ternyata menyusui tidak semudah teori x.x. Sampai keringetan mau nyusuin Hatta pertama tu wkwkkw. Ibu saya dan suami sampai kasian, tapi ya sabar sabar aja dulu.. namanya first timer. Besoknya observasi dari dokter membolehkan kami pulang. Waaa senangnyaa. Rumah sakit atau klinik mau seperti apa pelayanannya tidak bisa menggantikan rumah. Sebelum pulang, ada fasilitas pijat dan spa dari klinik..sungguh itu sangaaat membantu. Badan remuk gaes lairan tu, jadi agak mendingan pas dipijat seluruh badan. Hari kedua alhamd...
Jiwa yang tenang.. Hati yang lapang.. Adalah diantara nikmat yang mahal.. Dihari hari ini  Ketika berita duka silih berganti

#HaiHatta : 1

Saya mau cerita, cerita tentang proses persalinan Hatta, anak laki laki pertama saya (dan Bapaknya Hatta) yang lahir sekitaran dua bulan lalu di Bulan Mulia Ramadan (tulisannya Ramadan gaes sesuai KBBI Xixixi).  Perkenalan dulu, kami menamai anak pertama dengan nama "Ramadan Hatta Abisatya". Pertama tama nama yang sudah fix adalah Hatta. Begitu periksa USG dan diketahui anak kami InsyaAllah laki laki, usulan nama Hatta langsung ketok palu, sepakat, Bapak dan Ibuk Hatta setuju. Saya kurang tau, Bapaknya nemu dan setuju nama Hatta darimana, yang jelas bukunya di rumah tentang Bung Hatta ada sekitar 3 buku : Biografi Politik Mohammad Hatta (Delian Noor, LP3ES : 1991), Hatta Jejak yang Melampaui Zaman (Kepustakaan Populer Gramedia : 2010) dan Kedaulatan Rakyat, Otonomi dan Demokrasi (Mohammad Hatta, Kreasi Wacana : 2014). Buku yang kemudian saya baca diawal balik ke Jogja tahun 2019, yang kemudian menginspirasi untuk memberi nama anak laki laki kelak dengan nama Hatta. Terlebih k...
Kalo dipersilakan melakukan hal yang paling diinginkan, maka aku ingin memeluk diriku sendiri lamaaa sekali. Selama mungkin, seerat-eratnya. Ingin kukatakan pada Fatim yang hari ini, bahwa kamu sudah melakukan hal yang luar biasa. Kamu sudah bekerja keras. Kamu sudah bersungguh - sungguh. Ingin kupeluk seorang Fatim dan kukatakan padanya.. amanah kehadiran Hatta membuatmu semakin berhak untuk mencintai diri secara lebih..untuk semua usaha melahirkannya.. membersamai hari-hari awalnya.. mengenali dirimu sendiri yang membawa sifat-sifat yang telah ada tapi baru kini kamu sadari keberadaannya.. Terimakasih ya Allah mempercayakan Hatta di tengah tengah kami.. Perkenankan kami jadi orangtua yang amanah.. Senyum dan tangisnya mengajarkan arti mencintai dengan tulus, tanpa syarat. Hatta yang menerima ibunya tanpa tapi.. Ibu mencintaimu Nak.. ibu mencintaimu.. 

Percaya

Minggu - minggu ini aku berulang kali merapal kata "percaya". Percaya pada yang Diatas, percaya pada suami, percaya pada diriku sendiri, dan percaya pada lingkungan di sekelilingku. Juga, mempercayai makhluk kecil yang semakin membesar di perutku. Percaya itu tidak gampang, apalagi pada hal yang tidak pasti. Tapi waktu yang cukup lama telah mengajarkan bagaimana langkah yang kita ambil selalu ada sisi abu-abu. Dan dalam langkah yang kita ambil ada opportunity cost atas kesempatan lain yang berseberangan.  Bulan kemarin, ada peristiwa istimewa yang aku "rayakan". Aku "rayakan" dengan refleksi dan menengok pencapaianku. Pernikahan yang menginjak setahun, dan umur yang bertambah-keduanya di hari yang hanya berselang sehari. Aku juga tidak menyangka akan menjadi manusia yang sangat romantik seperti ini.. menggabungkan hari-hari istimewa, dan semesta mengamini. Terhadap bertambahnya umur, aku menengok ke belakang, dan ujian percaya sudah berkali-kali aku alami ...

#untitled

Kemarin sore saya pulang kantor tenggo. Jam 4 udah beres packing semua bawaan terus menuruni tangga menuju lobby . Paginya kebetulan gerimis malu-malu, jadilah saya berangkat bareng Pak Catur. Seringnya kalo berangkat bersama, maka saya akan menunggu (dengan mengisi waktu di depan laptop, mampir Progo belanja sayur atau keperluan rumah, atau menyusul ke kantor beliau menunggu depan kantor atau menunggu di stasiun lempuyangan tempat miki di parkir). Tapi kemarin sore rasa-rasanya kontrakan memanggil-manggil, minta saya segera pulang. Beberapa minggu ini memang ritme aktivitas sengaja saya buat selo, nggk sepaneng dan yang penting hati seneng. Kalo tidak dibuat begitu menjalani trimester pertama sepertinya akan lebih mencekam. Setiap pagi saya membatin mantra agar sedikit-sedikit sarapan yang tetap rutin saya lakukan masih ada yang tersisa diantara yang saya muntahkan kembali, jam 10 pagi di saat perut mulai melilit minta diisi lagi saya tidak  menolak apapun bekal yang saya siapkan...

#untitled

Tanggal 10 September wakil menteri Agraria Tata Ruang ada kunjungan kerja ke Jawa Tengah dan DIY. Jadi semacam ngunduh gawe bagi orang-orang kantor. Bapaknya yang juga adalah koordinator Gugus Tugas Reforma Agraria Pusat mau meninjau pelaksanaan GTRA DIY. Perjalanan di rencanakan konvoi pake mobil dengan protokol covid ketat. Sebagai pelaksana tugas yaudah sih mau protes orang pusat bisa diem dulu nggk sih di pusat nggk usah kemana - mana grafik COVID-19 juga masih besar tapi terlindas opini, kebijakan dan gelombang apa kata pimpinan. Yaudah sih ya. (Alhamdulillah sampai akhirnya ngeblog ini nggk ada info ada orang covid di kantor) Saat riweh ngurus kunjungan wamen dan sekaligus nyiapin rapat koordinasi yang lumayan besar itu sebenarnya udah mulai ngerasa ada yang beda sama badan dan mood. Mood swing semakin nggk jelas dan badan lebih cepet capek. Ya tapi mikir karna persiapan ini memang riweh dan substansi materi berubah - ubah terus nggk mikir lain-lain selain yaudah ini efek kerjaan...

#untitled

 Halo hatiku.. Bagaimana rasanya disapa lagi? Tuanmu akhir-akhir ini sibuk dengan sikap duniawi. Kerja. Kerja.Kerja. Lembar googledoc - lembar googledoc - lembar googledoc.. Pulang ke rumah masak-ngobrol standar.. lalu tidur dan besok kembali ke rutinitas lagi Begitu berulang-ulang.. Maafkan tuanmu tidak banyak waktu yang diluangkan untukmu.. Wahai hati.. Jika kau ingin bersedih, maka bersedihlah.. Karena memang naluri emosi berfluktuasi.. Yuk menepi.. sebentar.. besok kembali  bergiat lagi..

#untitled

Aku tidak ingin berbohong bahwa aku baik-baik saja. Aku ingin katakan bahwa kehidupan baru memberi dampak cukup nyata bagiku. Aku ingin sampaikan bahwa beradaptasi (lagi) di dunia baru terasa melelahkan bagi batinku. Lingkungan kerja... Keluarga yang secara kebiasaan dan pola komunikasi berbeda.. Dan kebutuhan - kebutuhan untuk berdialog dengan diri sendiri.. Saat kenyataan - kenyataan yang kita hadapi kadang tidak mengizinkan kita mengamini harapan Dan saat kita mengulur waktu dan bertanya-tanya.. Aku harus bagaimana? Aku sedang tidak baik-baik saja.. Tapi aku ingin katakan "Tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja.." "Its Okay not to be okay.." "Gwenchana...." :)

Trip Tiga Gili di Sekotong Lombok Barat

Image
 8 bulan lebih tinggal di Lombok dengan jadwal libur yang hanya ada tiap weekend (itu pun kalo tidak ada tumpukan kerjaan yang memaksa lembur) dan ditambah dengan waktu (dan biaya) untuk persiapan nikah membuat waktu untuk liburan mengunjungi tempat - tempat bagus di Lombok tidak leluasa. Belum jadi ke Rinjani, Sembalun, Pantai Pink, Gili Trawangan dan deretan nama - nama air terjun wkwkwk. Tapi kalo pun leluasa, sepertinya Lombok ini memang tidak bosan - bosan tempat menariknya berkali - kali disambangi. Belum lagi nanti nyebrang ke Sumbawa, atau ke pulau - pulau kecil di utara Pulau besar Sumbawa, belum lagi pemandangan bawah air sampai padang sabana. Beruntung akhir masa kontrak kemarin satu tim konsultan berdelapan orang mewacanakan kalo tidak pergi ke gili ya ke Sembalun. Meskipun diantara deadline, akhirnya wacana tersebut terealiasi. Berdelapan kami pergi ke tiga gili di Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat, yaitu Gili Nanggu, Gili Sudak dan Gili Kedis. Dengan meny...

Bagaimana Nikah?

Image
24 November 2019 saya menikah. Memutuskan untuk menerima ajakan seorang laki - laki baik yang datang pada Bulan Mei dan menyatakan keseriusannya untuk hidup bersama. Masih ingin ketawa juga kadang - kadang kalo ingat bisa mengiyakan ajakan seserius ini. Selain memang faktor U yang berperan penting untuk saya menyegerakan nikah (?), juga, mau nunggu sesiap apalagi? Tapi di atas semua itu, siapa yang ngajak dan yang mengizinkan pertama adalah paling penting, wkwk. Catur Edi Gunawan adalah nama itu. Saya masih ingat bahwa nama itu tidak asing, sering berkegiatan bersama, dan banyak kecocokan dan ketidakcocokan antara saya dan dia dalam sekali dua kali menyelenggarakan acara bersama. Lalu apa yang membuat akhirnya mantap mengiyakan? Proses terbilang cukup cepat. Setelah seseorang yang saya hormati menyodorkan nama itu, saya mempelajari biodata, saya mantap dan biodata yang saya kirimkan ke orang tersebut mendapatkan jawaban kemantapan yang sama, proses berlanjut. Mei biodata...

Mataram dalam Satu Bulan

Menjadi orang baru di tanah asing bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan kehadiran pendatang di kota mataram. Sejak pertama kali mendatangi kota ini, ambience yang tercipta seolah - olah  kita sedang berada di kampung sendiri. Lingkungannya terutama. Seperti yang saya ceritakan di minggu pertama, tempat ini benar - benar sangat harmonis antar satu pemeluk agama dengan yang lain. Simbol simbol agama terpampang dengan jelas dan tidak ada masalah dengan itu. Biarkan perdebatan hanya terjadi di tempat bernama sosial media, tapi kenyataan di lingkungan sini sangat jauh dari situ. Apa yang lebih membuat orang bisa berdamai daripada kesadaran bahwa setiap kita, seperti yang disebut saraswati dalam cuitannya “lemah, takut, dan retan”, “menempati bumi dalam waktu sementara”? Mungkin nuansa seperti itulah yang tercipta disini. Selain lingkungan, orang - orang yang saya temui adalah sisi menarik lainnya. Bahwa bumi bulat dan sangat kecil benar adanya. Rata - rata orang di kantor ada...

Lombok seminggu pertama

Image
Tanggal 30 April 2019 jam 18.40 dengan singa terbang saya bertolak ke pulau Lombok. Pulau yang saya pikir akan memberikan saya inspirasi dan semangat baru. Pulau yang saya tidak berekspektasi terlalu banyak akan memberikan saya hal luar biasa, tapi saya berkeyakinan jalan yang saya pilih ini akan membawa pada takdir baik. Terhitung sudah seminggu lebih sehari saya berada di pulau ini, tepatnya di Kota Mataram, ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat. Menempati satu kamar kos di dekat pusat kota, tidak jauh dari kantor gubernur, mudah mengakses ke fasilitas - fasilitas penting kota. Kota Mataram adalah kota besar untuk ukuran luar jawa. Berdiri 3 mall dan 2 bioskop, sebuah syarat kota bagi orang - orang generasi saya. Masjid Hubbul Wathan di Malam 1 Ramadhan Hari pertama sampai di Pulau ini, saya dibuat kaget dengan keramaian bandara. Benar - benar ramai. Tapi yang ramai bukan ruang tunggu ataupun operasional bandara, yang ramai adalah ruang jemputan yang seluas aula dan diisi penuh ...

Jono

Image
Jono awal dibawa pulang Anak anak Jeni yang berarti ponakan Jono Jono. Jono adalah nama kucing yang menempati rumah sejak akhir tahun 2017. Diadopsi oleh adik saya dari gelanggang mahasiswa. Jono adalah saudara kembar Jeni. Jono jantan sedang Jeni betina. Jono dan Jeni adalah nama yang diberikan di rumah hasil dari kesepatan bersama. Saya bukan pecinta kucing dan hewan - hewan rumahan lainnya, tapi kehadiran dua makhluk mungil ini menjadi cerita baru. Saya belajar menerima kehadiran mereka. Dengan kelucuan sekaligus rusuhnya mereka. Dengan mata bulat mereka sekaligus pipis sembarangannya mereka kadang - kadang. Mereka tumbuh besar. Sampai Jeni si betina rajin main dengan kucing jantan tetangga dan tau - tau suatu hari perutnya membesar alias bunting. Selang beberapa waktu, lahirlah 4 anak - anak Jeni, 3 jantan satu betina. Karena jumlah yang terlalu banyak, anak - anak Jeni pun dibuka siapa yang bersedia mengadopsi, hingga tersisa satu ekor saja jantan anak Jeni di r...

#untitled

Apa yang paling kita butuhkan ketika kita memutuskan sesuatu? Apa yang paling kita butuhkan saat kita memutuskan satu dua hal menyangkut keberlangsungan hidup kita? Apa yang paling kita butuhkan saat kita mengambil jalan yang berbeda dari jalan yang diambil orang kebanyakan? Dukungan. Kita butuh dukungan. Yang kita  butuhkan adalah sesama makhluk bernama manusia yang akan mendukung keputusan yang kita ambil. Semakin banyak yang mendukung sangat baik, tidak banyak orang yang mencemooh juga baik, tapi sepahit - pahitnya adalah ada orang yang tetap berdiri di sana, di tempat yang sama, untuk mendukung keputusan kita. Meskipun orang yang tetap itu hanya seorang saja. Dukungan. Dukungan tidak selalu ucapan "ya", juga tidak selalu ucapan "tidak, harusnya begini.." tapi kadang dukungan bisa berupa kalimat menggantung yang menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada kita, sebagai bentuk penghargaan bahwa yang menjalani seutuhnya keputusan itu adalah kita satu orang sen...