Posts

Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu..

Aku masih sangat hafal nyanyian itu Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama, sejak kita di sekolah rakyat Kita berebut lebih dulu menyanyikannya ketika anak-anak diminta menyanyikannya di depan kelas satu persatu Aku masih ingat, betapa kita gembira saat guru kita mengajak kita menyanyikan lagu itu bersama-sama Sudah lama sekali Pergaulan sudah tidak seakrab dulu Masing-masing sudah terseret kepentingan sendiri Atau tersihir pesona dunia Dan kau kini entah dimana Tapi aku masih sangat hafal nyanyian itu, sayang Hari ini, aku ingin sekali menyanyikannya kembali bersamamu Indonesia tanah air beta Pusaka abadi nan jaya Indonesia sejak dulu kala S’lalu dipuja-puja bangsa.... Di sana tempat lahir beta... Dibuai, dibesarkan bunda... Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata... Aku merindukan rasa haru dan iba Di tengah kebencian dan dendam Serta maraknya rasa tega Hingga kini, ada saja yang mengubah lirik lagu kesayan...

Versi

“Awake dhewe bakal gandhengan karo sing ditresnani sesuk mlebu suwargo” Itu penggalan isi pengajian dalam rangka Maulid Nabi di at Taqwa semalam. Menceritakan bagaimana seorang shahabat mengatakan kenyataan bahwa sangat cintanya ia pada Rosululloh SAW, dan berharap selalu bersama dengan beliau. Well, saya jadi ingat satu penggalan kisah di bukunya Kang Abik, Ayat-Ayat Cinta, dimana Fahri sedang di penjara, dan habis sudah akal Aisha mengupayakan kebebasan sampai ada terpikir akan menyogok keluarga Bahadur dengan sejumlah uang. Beruntung, Fahri adalah orang yang memilih di penjara dunia daripada jatuh pada kobaran api neraka, sekalipun untuk sebuah kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Kita akan bersama dengan orang yang kita cintai besok di hari akhir, cinta yang benar akan membawa ke syurga –pun- bersama-sama. Mungkin begitu. Ketika sampai pada satu kesadaran akan cita besar syurga, cinta tak berhenti pada sebatas kata, aku cinta kamu, maukah kau menjadi istriku, at...

Indahnya mekar seroja di tengah rerimbunan gulma

Image
Seroja atau lebih dikenal dengan sebutan teratai adalah tanaman yang istimewa (bagi saya). Dua tahun jadi ketua regu di pramuka jaman SD (halah) namanya regu Teratai. Bapak saya sedari kecil juga sangat hobi bercerita tentang bunga ini. Nama lain yang juga beliau sampaikan selain seroja adalah padma dan lotus. Ketika di SMP bertemu puisi yang bercerita tentang kepahlawanan Ki Hajar Dewantara, tak heran akhirnya kenapa puisi itu memetaforakan Sang Bapak Pendidikan dengan teratai. Berikut saya kutip langsung pengertian teratai versi wikipedia B) Teratai   ( Nymphaea ) adalah nama genus untuk tanaman air dari   suku   Nymphaeaceae . Dalam   bahasa Inggris   dikenal sebagai   water-lily  atau waterlily . Di Indonesia, teratai juga digunakan untuk menyebut tanaman dari   genus   Nelumbo   (lotus). Pada zaman dulu, orang memang sering mencampuradukkan antara tanaman genus   Nelumbo  seperti   seroja   dengan genu...

Ibu pada One Litre of Tears

Pernah nonton film Litre of Tears kan ya? Film yang super melo yang bikin nangis ngk berhenti-berhenti. Diputer entah dari jaman kapan, juga pernah diadaptasi di Indonesia lewat sinetron Buku Harian Nayla.  Well . Film itu emang keren. Ngk ada nuansa religinya tapi yang terbangun adalah nafas religi yang menurut saya –sangat kuat-. Tiap-tiap kita dengan mudah bisa mengambil pelajaran, entah dari sisi persahabatan si tokoh utama dengan teman-temannya, relationship between si Aya sama si Ashou Haruto, atau keluarga besar Aya maupun si Haruto. Disini, saya justru ingin cerita tentang sosok si Ibu, Ikeuchi san. Sepanjang film ini saya tonton, yang cukup menyita perhatian dari segenap tindak tanduk tokohnya ya si Ibu ini, terlebih pada fragmen dimana Aya mau dimasukin ke dissability school karna sudah cukup merepotkan teman2 dan stakholder sekolahnya. Aya yang awalnya bersikeras menolak, tetiba dengan tulus ikhlas dan tanpa paksaan menyatakan siap dirinya pergi ke seko...

Smile, Learn, and Share

Saya nemu kosakata Learn and Share dari buku Youth on Top , di kamar Atik Nurul Laila. Pas di tulisan Citra Natasya (bener ngk ya cara nulisnya). Intinya, di tulisan itu disampaikan, bahwa pertama yang harus kita miliki dalam menjalani hidup ini adalah rasa bahagia. Ya. Bahagia. Dan rasa ini, rasa bahagia ini, sangat berkorelasi dengan apa yang disebut dengan rasa syukur, rasa menerima apapun yang hari ini kita punya. Betapa tersiksanya orang yang selalu memandang pada sisi kelebihan yang dimiliki orang lain. Hingga lupa pada potensi diri dan segenap anugrah yang dimiliki diri sendiri. Ah. Kalimat-kalimat dalam buku itu menyentil tepat ulu hati. Bahagia itu letaknya disini, di hati kita. Ngk usah nyari kemana-mana. Dan.. bahagia itu akan selalu membawa efek membebaskan, feel free kalo kata Claw (?) -merk outdoor stuff-. dan rupanya rasa bahagia itulah kunci awal kita terus punya semangat Learn! Punya semangat belajar! Ngk gampang ngeluh, apatah lagi menyalahkan keadaan. ...

Menjadi Pendongeng

Mereka adalah matahari-matahari. Yang tetap menyiratkan serpih cahaya di sebuah sore yang gerimis. Menjadi pendongeng. Ini pekerjaan yang mudah-mudah susah. Aku mencoba untuk yang kesekian kali. Di balik batok otak mereka, aku temukan bejibun tanya, banyak respon, dan banyak kata-kata baru yang keluar serta merta atas tanggapan dari apa yang aku ceritakan. Aku bukan anak psikologi, yang tahu psikologi perkembangan, juga tak tahu tentang psikologi anak, yang bisa menganalisis dan memperlakukan anak-anak itu pas sesuai fase umurnya hari ini. Tapi aku tahu, dalam mendongeng ada satu yang aku tak bisa tutupi dari hak asasi matahari-matahari itu, independensi. Bukan. Bukan independensi yang biasa aku dengar di kampus-kampus, atau dari diskusi-diskusi orang-orang yang nyinyir berdasi. Aku mengartikan independensi di matahari-matahari kecilku dengan gejolak emosi yang manamparku sehingga tau arti kebebasan kecil yang mencerdaskan di antara mereka. Aku mendongeng, tent...

Karna Alloh jadikan Uhud dan Hunain itu untuk Kita Berkaca, dan Menjadikan Khandaq Tempat Menyemai Asa

Uhud. Lewat mimpi yang benar Rosululloh sudah diberi aba-aba, untuk tetap bertahan di dalam kota. Tapi semangat anak muda terus bergelora, dalam bingkai musyawarah keputusan diambil segera. Rosululloh kenakan baju zirahnya, beliau selempangkan pedangnya. Dan berkata, “pantang bagi seorang Rosul, saat sudah keluar dengan baju perang, berbalik arah.” Uhud adalah medan tempat kita berkaca, atas kejadian-kejadian yang sangat mudah pelajaran kita rasakan berulang. Apakah pasukan islam adalah perindu kemenangan semu bernama “menang atas lawan?” saya rasa itu pandangan terlalu dangkal, pikiran yang teramat picik. Kita tak bisa lupa, pada sepertiga pasukan yang dibawa membelot oleh Abdullah bin Ubay dedengkot munafik untuk menganulir putusan rosul diam-diam, dan membawa lari pasukan yang bermental ciut, berbaris berjingkat-jingkat kembali ke Madinah dari medan perang. Dalam mauskrip sejarah juga kita temui, tidak ada yang salah dengan putusan musyawarah. Meski usul dari shah...