Posts

Selamat Tahun Baru

Akhirnya, beberes blog yang penuh kenangan dan sejarah ini juga. Yeah, bagaimanapun asal mula saya mengenal dunia maya, mengenal ilusi, berani menyampaikan mimpi-mimpi ke orang lain, menceritakan banyak hal tentang kesemrawutan pikir dan pengetahuan-pengetahuan baru serta pengalihan rasa atas segala yang dialami adalah disini. Dengan sedikit lika-liku dari jalan yang sudah sedang dan akan terus ditempuh adalah lewat blog ini. Jadi,, kembali kesini adalah kembali lagi ke diri sendiri, menjadi kuat dalam kedirian kita dalam riuh dan hiruk pikuknya hidup bersama. Malam ini, malam kesepuluh di tahun baru 1437 H ini, ada satu perenungan yang akhir-akhir ini membuat saya akhirnya sedikit paham : diri kita, adalah kita sendiri. Bukan diri kita yang ketika bersama A adalah A, ketika bersama B adalah B, ketika bersama C adalah C dan seterusnya. Kita adalah A sekalipun bersama A, B, C, D dan sampai Z. Kita adalah A yang luwes dan berikhtiar nyambung saat bersama B,C, D dan seterusnya. Kita ...

#untitled

Lega. Kembali lagi mengingat sebagaimana yang didapat pada waktu-waktu lalu, lega, iya lega. Lega adalah pengayaan batin atas kerja kita. Bukan apa yang didapat tapi apa yang telah dilakukan, yang berhasil diselesaikan. Bahagialah bila, kau masih punya mimpi. Ya, meskipun sebagaimana tabiat mimpi, dia adalah maya, imajiner lagi fatamorgana. Tapi karunia Allah melebihi dugaan-dugaan hamba, seperti Bunda Hajar yang melihat fatamorgana cekungan air, tapi dikejar hanyalah pasir, tapi tanpa disadari ia hadir justru di dekat kaki sang Ismail. Hidup hanya sekali, berikanlah yang terbaik. Memberi yang terbaik mungkin bukan yang terbanyak, terhebat, terjauh atau termelambung. Terbaik adalah seperti yang dikatakan dalam puisinya Taufik Ismail, jika kau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit jadilah belukar, Tapi belukar yang baik, yang tumbuh di pinggiran danau. Kalau kau tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput, tapi rumput yang memperkuat tanggul di ...

#Untitled

Kita menjebak diri dalam sebuah lingkaran imajinasi. Lalu kita berdalih nafas kita adalah mimpi-mimpi. Kita lupa bahwa Alloh membenci angan yang panjang. Tapi kita lagi-lagi menghibur diri, mimpilah nadi agar tetap bertahan, agar yang hampir tumbang kembali menjejak untuk melanjutkan perjalanan. Desa dan kota, tatanan permukiman dan larik-larik perumahan adalah peradaban berada. Ada kasak kusuk, ada hingar-bingar, ada tawa canda, sekaligus retas gelisah. Tiap hari manusia berebut sepiring nasi, naik turun tangga dan elevator, berpusing dengan naik turun saham dan kurs mata uang. Ada kepulan asap, ada hening embun pagi, dan ada lari-lari anak pinggiran tak bersepatu. Aku ingin mengajakmu ke dua tempat. Dimana kau akan percaya bahwa segala tak ada yang tak mungkin, kalo Alloh berkehendak. Tapi sekaligus merenung, bahwa manusia tetaplah makhluk tak berdaya, mudah saja yang tinggi besar tergolek lemas, hanya dalam menit-menit terjeda. Pergilah ke Gunung . Saat kau mulai jumawa...

#untitled

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. (Gie) Menilik realita orang-orang terpinggir, orang-orang kecil memang tidak pernah nikmat. Setidaknya, jika kita punya alat pembanding dengan jalan-jalan ramai yang hilir mudik berwarna mewah dunia tiap hari. Tapi menikmati jenak pertemuan dan menikmati hari-hari yang mereka habiskan adalah keajaiban. Karna dalam detiknya, karna dalam waktu yang bertambah sejengkal demi sejengkal masih ada ungkapan “untungnya” meskipun masih sepi dari cukup kebutuhan hidup dari standar. Hari-hari terakhir Alloh sempatkan saya melongok takdir-takdir baik yang dipunya orang yang dibawah kecukupan dari saya, untuk sekadar menilik kembali betapa banyak nikmat yang terlewat disyukuri. Diskusi di sore hari bersama adik kelas, tentang kebelumjelasan rencana setelah hingar bingar kelulusan, tentang satu dua orang sakit, tentang perjalanan jauh menyengaja menikmati lelah sekadar pemutus nikmat tiap hari ...

Literasi

Image
Minggu kemarin saya disergap perasaan yang aneh, saya terbayang wajah teman-teman diskusi jaman SMP, teman-teman di OSIS yang langganan tempat ngobrolnya di perpus (terlalu elegan kalo disebut rapat), juga terbayang rumah tua mbah kakung . Sampai akhirnya hari Ahad kemarin, setelah melingkar bersama adik-adik titipan saya sempatkan mampir ke rumah mbah kakung, ditemani salah satu sepupu. Dengan membuka paksa dan melompat jendela, akhirnya berhasillah masuk ke rumah yang beberapa bagian atapnya sudah ambles. Sedih, karna buku-buku SMP SMA yang tidak sempat dipindah sama sekali nggk ada, entah kemana T.T. Memang “hanya” buku2 tulis dan LKS2, tapi bagaimanapun juga itu buku yang sangat berharga dan mengantarkan saya untuk tau banyak hal. Pulang ke rumah dengan hati masygul. Siang ini tadi saya ngater Astri nyegat bis, mau ke kampus dalam rangka sertijab UK, tiba-tiba terbersit untuk nyari perpus kabupaten, dan alhamdulillahnya masih di tempat yang sama dengan jaman SD dulu. Hany...

#untitled

Ada sebatang kaktus, tumbuh di depan rumah mewah milik seorang konglomerat. Tepat di atas genangan air tanaman kaktus itu tumbuh tegak. Bunganya harusnya sudah mulai tumbuh, di minggu-minggu ini, mengingat waktu sejak mulainya ditanam oleh pemilik rumah, dan musim yang saat ini sedang berlangsung di kota itu. Tapi rupanya tidak. Bunga yang dinanti pemilik rumah, juga yang dinanti teman-teman sesama penghuni depan rumah sang konglomerat, jangankan mekar, muncul tanda-tanda akan berbunga pun tidak. Kaktus itu diam. Tubuhnya yang sudah dipenuhi duri, yang awalnya dibanggakan karna tidak semua serangga mampu mendekati, kini hanya mampu membungkamkan dirinya. Tanaman lain yang awalnya takut-takut mendekat kini perlahan berubah sikap. Ada yang mendekat simpatik, ada yang mencemooh, ada yang apatis tak peduli. Kaktus itu semakin berubah menjadi tanaman pendiam. Dia lirik genangan air yang mengotori bagian bawah tubuhnya. Sekalipun tak juga hujan, genangan itu rupanya sema...

#untitled

Baru sekitar 5 menit yang lalu saat tulisan ini mulai dibuat, anak kecil tetangga saya pulang dari rumah, usai belajar bersama saya tentang pecahan campuran. Dan si anak pulang dengan wajah merah habis nangis. Suatu kejadian yang tentu saja sangat saya sayangkan. Tidak biasa, dan tidak menyenangkan membuat orang menangis, lebih-lebih itu anak SD yang hatinya masih pualam. Habis maghrib, sebut saja Dina, biasa datang ke rumah saya menenteng satu dua buku. Sekedar minta tolong kalau ada pekerjaan rumah yang tidak berhasil dia selesaikan. Pun juga hari ini, dengan dua buku tulis dan satu kotak pensil dia datang dengan nada suara yang khas semi teriak mengucap salam dari luar. Melihat saya belum beranjak dari tempat sholat, Dina mengalihkan kegiatan dengan ambil minum dan makan kue-kue sisa lebaran. Saya belum selesai, dan adik saya tengah sibuk di dapur bikin nasi goreng. Dina menyusul ke dapur, dan rencana awal dia mengerjakan PR harus dilengkapi prolog masak-masak bersama adik saya...