Mencari Fathimah Az Zahra (2)


Lima orang anak yang dikaruniakan Alloh SWT kepada Fathimah. Yaitu Hasan, Husain, Zainab, Ummu Kultsum, dan Muhsin-yang meninggal keguguran di rahimnya yang suci. Ummu Kultsum kelak dinikahi oleh Umar bin Khattab karena keinginan Umar yang kuat untuk bersambung ikatan darah dengan Rosululloh.

Fathimah mendidik sendiri dua putra dan dua putri yang diamanahkan Alloh padanya. Ia susui anak-anaknya dengan air susunya sendiri. Ia rawat anak-anaknya dengan tangannya sendiri. Ia memilih untuk mendekap anaknya sendiri, meskipun kepayahan bekerja dan ada orang yang mau menggantikannya, karena baginya, hanya ibulah yang bisa menyayangi anak-anaknya, bukan orang lain, termasuk babby sitter. Padahal sekarang, banyak ibu-ibu muda yang memilih untuk bisa makan dengan enak dan tenang, sedang menggendong anak-anaknya biar dikerjakan oleh Babby sitter.

Mari kita dengar cerita dari Bilal, muadzin Rosululloh:

“Saya melewati Fathimah yang sedang menggiling,” kata Bilal, “sementara anaknya menangis.”

“Saya berkata padanya,” Kata Bilal melanjutkan.

“Jika engkau mau, biar aku yang memegang gilingan dan engkau memegang anak itu. Atau, aku yang memegang anak itu dan engkau memegang gilingan,”

Ia berkata,”Aku lebih dapat mengasihi anakku daripada engkau.”

Sebagaimana istrinya, Ali juga menolak orang membawakan makanan yang akan diberikan kepada anak-anaknya. Shalih, seorang pedagang pakaian pernah mendapat cerita dari neneknya, “Saya melihat Ali membeli kurma seharga satu dirham, lalu beliau membawanya dibungkus selimut. Saya berkata kepadanya,”saya yang akan membawakannya ya Amirul Mukminin.’ Beliau berkata, ‘Jangan! Kepala keluarga lebih berhak membawanya.”

Kisah ini disampaikan oleh Imam Bukhori. Jabatan Ali pada masa itu adalah Khalifah, Amirul Mukminin, yang pada masa sekarang, jabatan itu lebih tinggi daripada presiden atau raja suatu negara, sebab kekuasaannya meliputi banyak negara. Tetapi untuk membawakan makanan anaknya, Amirul Mukminin tidak mau menyerahkan kepada orang lain.

Kepada anak-anak perempuannya, Fathimah mengajarkan keberanian, pengorbanan, keteguhan dan tidak takut pada orang lain sejauh ia berdiri di atas kebenaran. Sehingga kita mendapati, dalam situasi yang penuh ketakutan, dan sewaktu-waktu leher bisa terputus, Zainab menghadapi Ibnu Ziyad dengan penuh ketegaran.

Ketika Ibnu Ziyad menghina Zainab dengan perkataan,”Puji Tuhan yang telah mempermalukan dan menyingkap dusta kalian. Puji Tuhan yang telah mengobati rasa dendam dan kesumatku kepada saudaramu.”
Zainab menjawab dengan tegar dan tanpa rasa takut, “Puji Tuhan yang telah menganugerahi kami keutamaan syahadah. Puji Tuhan yang telah menetapkan kenabian pada keluarga kami. Kekalahan dan kenistaan adalah milik kalian wahai orang-orang yang dzalim dan fasik. Syahadah adalah kebanggan, bukan kenistaan. Orang-orang dzalimlah yang suka berbohong, bukan kami. Kami ahli hakikat. Semoga Tuhan mencabut nyawamu, wahai anak marjanah!”

Ibnu Ziyad dan orang-orang yang hadir kaget mendengar kata Marjanah, wanita lacur. Ibnu Ziyad merasa tertampar. “Sudah begini, kalian masih bisa angkat suara.”

Ibnu Ziyad mengambil kesempatan bicara dengan Ali Ausath, kelak dikenal dengan gelar ‘Ali Zainal Abidin. Dia, Ali, memberikan jawaban yang tak kalah pedasnya dengan Zainab, padahal dia masih sangat kecil, seusia anak TPA sekarang. Kemudian Ibnu Ziyad memanggil Algojo, tukang jagal manusia, untuk memotong kepala Ali Zainal Abidin. Zainab bangkit dan memeluk Ali, “Demi Alloh, lehernya tidak akan terpenggal sebelum kalian penggal leherku.”

Ibnu Ziyad memandang,”alangkah kuatnya rahim mempererat mereka.”

Inilah Zainab, hasil didikan madrasah suci bernama Fathimatuz Zahra.

Dari Fathimah juga, anak-anaknya belajar banyak pengorbanan.




*totally copas, dari Buku Ustadz Faudzil Adzim, pada satu bagian dengan judul asli: "Tuhan, dimana Fathimatuz Zahra sekarang?"
30/10/2013
8.02

Comments

  1. Fatim, bacanya merinding. ditunggu chapter 3, 4, 5, ah selanjutnya sampai tamat :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bunga Bunga Kamboja : Semua akan Berakhir pada Akhirnya